Selasa, 16 Februari 2016

Singkong Gajah dan Lingkungan

Untuk keperluan lingkungan hidup, 

Singkong Gajah sebaiknya ditanam di tanah tandus, lahan dengan tutupan alang-alang, tanah tidur, tanah terlantar dan tanah bekas tambang batu bara yang cukup luas di Kawasan Samarinda.  Pemanfaatan lahan seperti ini dengan metode pengolahan lahan yang berteknologi akan akan lahan berubah menjadi subur.  Hal ini didasarkan pada latar belakang keilmuan S2 ilmu lingkungan hidup dan sumber daya alam dari IPB oleh Ristono.  Adapun teknologi aplikatif pada dasarnya menggunakan prinsip meminimalkan penggunaan pupuk kimia, sebagai gantinya diperbanyak menggunakan pupuk organik seperti kompos, bokasi, pupuk hijau, dan pupuk hayati.  Yang dimaksud dengan pupuk hayati adalah pupuk yang menggunalan berbagai jenis mikroba, misalnya mikroba yang menghasilkan unsur-unsur N, P, dan K.  Penggunaan pupuk hayati ini bisa menghemat biaya untuk pemupukan hingga mencapai 50%. 
Prof Ristono bersama mahasiswa binaan ketika menjadi 2nd runner up
Kompetisi Lee Kuan Yu-2013 di Singapura
Ristono dalam penelitian dan penanamannya di Samarinda tidak menggunakan pupuk kimia.  Hasil penelitian ini diterapkan dibeberapa lokasi di Balikpapan dan Kutai Kartanegara.  Berdasarkan hasil penelitian di Kaltim ini dapat berguna untuk lingkungan lainnya.
 Tanaman Singkong Gajah hadir menjadi sumber usaha tani monokultur atau tumpangsari karena tanaman ini layak dibudidayakan oleh petani bersamaan dengan pengembangan tanaman lainnya. Untuk tumpangsari dengan tanaman jagung cukup menguntungkan petani sedangkan untuk pengembangannya akan diteliti tumpangsari dengan kacang tanah, kacang hijau, dan kedelai.
 Pengembangan secara terpadu dengan bidang peternakan dan perikanan darat sudah dilakukan penelitian di Kecamatan Marangkayu dan Kecamatan Samboja di Kabupaten Kutai Kartanegara oleh Ristono. Hasil uji coba menunjukkan berpeluang untuk dikembangkan karena menguntungkan bagi lingkungan hidup. Paling tidak kolam-kolam ikan mengurangi banjir.  Hal ini masih perlu kajian lanjut untuk dapat diaplikasikan oleh masyarakat.   Karena variasi dengan jenis ternak cukup banyak dan untuk jenis perikanan darat juga begitu. 
Singkong Gajah, warna umbi putih bersih.

 Daun dan umbinya bermanfaat sebagai sumber pangan dan gizi bagi manusia,  ternak, dan ikan.  Ia berpotensi untuk ketahanan pangan dan biofuel.  Produk hilir untuk makanan, pakan dan pupuk membuka lapangan industri yang multidimensi sehingga ia juga berpeluang untuk Pengembanan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.  Penanaman Singkong Gajahdengan prinsip lingkungan hidup memungkinkan kontinuitas penggunaan tanah dengan teknologi pemupukan dan pemeliharaan tanaman.  Pemeliharaan tanaman yang utama adalah penyiangan rumput-rumput pengganggu.  Tantangan IPTEK yang aplikatif diharapkan dapat segera hadir untuk ini, karena selama ini Ristono masih menggunakan herbisida untuk pembasmian rumput pengganggu.  Teknologi aplikatif untuk menghindari gangguan rumput adalah mengatur jarak tanam sehingga canopy tanaman memugkinkan rumput-rumput tidak tumbuh di bawahnya.
 Nilai ekonomi dan ekologi tanaman ini secara menyeluruh berasal dari daun, batang dan akarnya menopang pendapatan perorangan, keluarga, dan negara. Manfaat bagi lingkungan hidup cukup besar karena tanaman Singkong Gajahmampu ikut serta mengendalikan kadar CO2 di udara.  Tanaman ini dalam masa pertumbuhan memiliki riap yang tinggi pada hijauannya. Keteraturan penanamannya menghasilkan keindahan tersendiri menumbuhkan estetika yang menyehatkan rohani bagi yang menikmatinya. Tanaman Singkong Gajahsebagai tanaman hijauan yang riapnya termasuk cepat serta sistem perakarannya bisa mengikat air tanah sehingga berfungsi untuk mengendalikan banjir.  Fungsi ini bermanfaat nyata bahwa Singkong Gajahikut serta menjaga lingkungan hidup.
 Kemampuan tumbuh tanaman Singkong Gajahdi lahan tandus sudah diuji melalui penelitian sederhana di wilayah kecamatan Samboja dengan hasil cukup baik. Atas hasil inilah maka Ristono menyarankan untuk keperluan lingkungan hidup agar memanfaatkan lahan kurang subur di dataran rendah hingga dataran tinggi.
 Tanaman ini tahan terhadap kekeringan menjadikan dirinya mampu berperan sebagai tumbuhan penyangga kelestarian alam.  Tidak diragukan lagi bahwa tanaman yang ramah lingkungan ini mampu menjadi tanaman basis dan tanaman pionir pada lahan-lahan kritis atau lahan marjinal termasuk untuk reklamasi lahan pada hutan-hutan yang telah rusak maupun untuk reklamasi lahan bekas tambang batubara.  Bahkan tanaman ini menurut Ristono dapat digunakan sebagai indikator dari kesuburan tanah.
 Singkong Gajah mengadung beberapa Vitamin penting untuk kesehatan lebih-lebih zat karsinogeen untuk melawan kanker. Walaupun kandungan zat ini umumnya ada pada singkong pahit (bitter casava), namun tidak deminian berlaku pada Singkong Gajah.
 Problema peningkatan jumlah penduduk dan ketahanan pangan di dunia ini akan dapat diatasi dengan Singkong Gajahyang dikelola dengan teknologi dari tingkat tradisional hingga moderen. Pola makan penduduk dunia harus diarahkan kepada perubahan yang dimulai pola konsumsi makanan campuran khususnya menghindari ketergantungan pada jenis bahan makanan seperti beras, gandum, dan jagung yang dapat digantikan atau disubstitusi dengan bahan baku produk tanaman ini. Hal ini berarti bahwa pengembangan industrialisasi berbahan baku singkong dikembangkan lebih serius dimulai untuk ketahanan pangan penduduk manusia. Oleh karena itu tanaman ini menjadi komoditas yang berpeluang dan prospektif untuk dikembangkan dengan pendekatan agroindustri dan agribisnis.
 
Beberapa tanaman jika dipelihara baik, dapat mencapai
berat 45 kg per pohon.
Sebagai bahan baku bahan bakar, Singkong Gajahdi masa mendatang akan menjadi pengganti atau pendamping Minyak dan Gas Bumi (MIGAS). Hal ini memungkinkan memberikan solusi bagi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selalu menjadi masalah manusia bumi sehari-hari yang tidak berkesudahan.  Pengembangan BBM alternatif ini dapat menambah  pengetahuan dan wawasan khususnya di bidang teknologi dan industri.  Perjuangan penulis menuju realisasi terwujudnya regulasi dan perundangan mengenai Bioetanol berpihak pada ”rakyat kecil” di mana pelaku bisnis ini bukan dikuasai oleh ”konglomerasi”.
 Sehubungan dengan masalah kemanusiaan di mana bencana alam dan bahkan bencana kelaparan maupun kelangkaan bahan bakar selalu terjadi dan semakin menghantui semua bangsa di dunia ini, maka harapan penulis agar Singkong Gajahsebagai salah satu solusinya.
 Peningkatan produktivitas tanaman dinyatakan dengan satuan kg/ha per tahun. Dalam hal ini kita pikirkan untuk skala kebun yang umum.  Dengan perawatan tataman, pemupukan, penjagaan terhadap hama dan penyakit, penjagaan terhadap kadungan air tanah diharapkan Singkong Gajah produktivitas umbinya mencapai 100 Ton per Ha sekali panen per tahun, umur panen 1 tahun. 
Meskipun besar, singkong gajah relatif tidak menjadi kayu,
meskipun usia sampai dengan 12 bulan.
Terpikirkan untuk ”menggantikan keju dengan singkong” seperti adanya lagu ”Anak Singkong” yang ditenarkan oleh penyanyi almarhum Ari Wibowo. Perjuangan Singkong Gajah menyadur syair dari lagu karya Koes Plus yang berjudul ”Kolam Susu” di mana ”tongkat kayu jadi tanaman”, wujud nyatanya “tongkat kayu” adalah Ubi Kayu atau singkong gajah. Dengan demikian, perjuangan Singkong Gajahuntuk membantu percepatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Adil dan Makmur penuh dengan ”susumendekati kenyataannya.
Lahan marginal di Indonesia sangat luas dan bila tidak digunakan akan menyebabkan erosi, kebakaran dan menurunnya kesuburan tanah. Tanaman singkong sangat adaftif sehingga dapat tumbuh dan berproduksi di lahan kering dan tanah tidak subur.  Penggunaan teknologi aplikatif yang disarankan oleh Ristono boleh diperhatikan karena berakibat perbaikan lingkungan hidup.
(buku : Singkong Gajah Berjuang - PRof.Dr.Ristono, MS)