Selasa, 20 September 2016

STUDY WISATA KE PT. SIDOMUNCUL 9 September 2016

Pada tanggal 9 September 2016, PT SGI UTAMA bersama PT BANK SULTRA dan Pemerintahan Kabupaten di Sulawesi Tenggara mengadakan kunjungan wisata ke Pabrik PT SIDOMUNCUL Ungaran. 
Kunjungan ini dalam rangka melengkapi program pengembangan budidaya singkong gajah di beberapa Kabupaten Sulawesi Tenggara. 

Adapun dalam study wisata ini dihadiri juga Bapak Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen Pol Drs. Agung Sabar Santoso, SH.MH dan juga beberapa Kapolres yang mendampingi beliau. 
Tampak juga hadir dari perwakilan DPRD Sultra, Kabupaten Muna, Bombana, Buton, Konawe Selatan, Konawe dan Kolaka. 

Sedangkan dari pihak panitia Bank Sultra juga tampak hadir Direktur Utama Bapak Khaerul Kemala Raden, Bapak Depid selaku Direktur pemasaran beserta rombongan perwakilan kantor cabang. 

Dalam kunjungan ini rombongan disambut oleh Bapak Dr.Ir.H.Dian Risdianto,MT.IPP selaku General manager PT Sidomuncul Pupuk Nusantara.
Acara ini bertujuan juga menjalin silaturahmi antara pemerintahan di Sulawesi Tenggara dengan Sidomuncul, Bank Sultra dan PT. SGI Utama, dalam rangka menciptakan Kedaulatan Pangan di wilayah Sulawesi Tenggara. Dalam kunjungan ini dibuat santai dan tercipta tali silaturahmi yang baik dengan tujuan untuk mengawali kerjasama perkebunan Singkong Gajah dan Industri Hilir nya di Propinsi SULTRA. 

Pada hari kedua tanggal 10 September 2016. Dilanjutkan study wisata ke daerah Pati mengunjungi industri pabrik tapioka dan pabrik Mocaf. Dalam kunjunga ke pabrik ini para tamu sangat antusias bertanya perihal proses dan bentuk pemasaran nya. Banyak  hal pengetahuan positip yang di dapat melalui study wisata ini. Diharapkan di wilayah Sulawesi Tenggara nanti dapat juga diciptakan cluster-cluster industri yang berbasis bahan baku nya dari singkong terutama singkong gajah. 

Diharapkan melalui kerjasama yang baik antara stakeholder baik dari tingkat perbankan, pemerintah daerah maupun swasta (pengusaha) dapat mewujudkan program pemanfaatan lahan tidur dan perkebunan singkong gajah yang terintegrasi dengan Industri hilirnya.


Rombongan bersama manajemen Sidomuncul Pupuk Nusantara di Agrowisata Sidomuncul.

Kunjungan ke pabrik cluster tepung MOCAF

Kunjungan di pengolahan pupuk organik PT. SMPN



Bersama menikmati perkebunan yang ada di pabrik Sidomuncul

Pabrik pengemasan jamu Kuku Bima



Cluster pabrik tepung mocaf

Minggu, 04 September 2016

Gallery Singkong Gajah DR

video











Panen di Kebumen 
video



Persiapan Bibit untuk dikirim ke para petani Singkong 

Pengiriman Bibit dengan menggunakan truck 

Singkong Gajah DR dapat mencapai berat 35 Kg dalam tanah yang subur dan gembur



Petani SG DR di PPMT Palembang - Umur 3 bulan, dipanen untuk konsumsi makanan
Prof Dr Ristono bersama peserta PPMT di Palembang






Penanaman SG DR di PPMT Anjungan Pontianak



Rasa Singkong Gajah DR sangat enak, gurih dan mulen.



SG DR Di Wonogiri

SG-DR di Wonogiri


NOTE Bagi Mitra petani SG-DR yang akan berpatisipasi untuk di posting foto-foto tentang perkembangan budidaya nya, bisa langsung menghubungi admin.

Contact Person - Hubungi Kami :

Erwien Rastana SE. MM

PT Singkong Gajah Indonesia Utama

Email  : erastana@gmail.com

Phone / Whatsaap : +62-8121779337

For further information please contact us.


video



PEMDA KAB. BOMBANA MOU PENGEMBANGAN SINGKONG GAJAH DR

Pemda, Bank Sultra, Dan PT. Sido Muncul Tanda Tangani MOU Pengembangan Singkong Gajah

image-300x200
Penandatanganan Memorandum of Understanding (Mou) dalam pengembangan singkong gajah di Kabupaten Bombana
Bombana, Sultralive.com – Dalam rangka pengembangan singkong gajah di Kabupaten Bombana, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bombana, Bank Sultra dan PT Sido Muncul Pupuk Nusantara menandatangani Memorandum of Understanding (Mou).
Direktur Pemasaran Bank Sultra, Depid, mengaku, akan membantu masyarakat dalam pengembangan singkong gajah, dan sudah banyak melakukan langkah berkaitan dengan program pembangunan terutama disektor pertanian.
“Melalui kesempatan ini saya sampaikan bahwa, Bank Sultra terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam mendukung program pembangunan. Untuk pengembangan singkong gajah, kami berkomitmen untuk membantu masyarakat melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR),” katanya, dalam sambutannya, di acara peresmian penggunaan gedung aula kantor bupati Bombana, selasa (23/8/2016).
Dijelaskan, bahwa saat ini, singkong gajah masih diimpor dari luar negeri dan PT Sidomuncul membutuhkan singkong gajah dalam proses produksi tepung singkong.
“PT Sidomuncul juga akan membangun pabrik di Sultra, dan singkong gajah merupakan komoditas yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat Bombana, sehingga upaya Pemkab setempat termasuk kesiapan pihak PT Sido Muncul harus didukung penuh oleh pihak Bank Sultra,” kata Depid.
Ditempat yang sama, Bupati Bombana H. Tafdil mengatakan, pihaknya menerima program pengembangan singkong gajah tersebut karena proses pemasarannya yang tidak rumit.
“Pemkab Bombana bersama Dinas terkait telah melakukan penandatanganan MoU dengan PT Sido Muncul berkaitan dengan rencana pengembangan tanaman tersebut di Bombana, dukungan pihak Bank Sultra terkait program ini sangat kami apresiasi. Kami berharap, pengembangan singkong gajah ini dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat di daerah ini,” ungkapnya.
Penulis : Andri
Sumber : http://sultralive.com/pemda-bank-sultra-dan-pt-sido-muncul-tanda-tangani-mou-pengembangan-singkong-gajah/ 

Kabupaten Muna Barat Kembangkan Budidaya Singkong Gajah

Muna Barat Kerja Sama Dengan PT Sido Muncul Kembangkan Budidaya Singkong Gajah
 
BUDIDAYA SINGKONG GAJAH – Foto bersama sosialisasi Pengembangan singkong gajah yang di hadiri oleh Pj. Bupati Mubar, Bupati Kolaka Timur, Wakil Bupati Konsel, Wakil Bupati Konawe Utara dan Bombana di wakili oleh Sekda di Semarang bersama Dirut bank Sultra dan para kepala cabang Bank BPD masing-masing Kabupaten di Di PT.sidomuncul Semarang. (Laode Pialo/ZONASULTRA.COM)

ZONASULTRA.COM,LAWORO– Pemerintah Kabupaten Muna Barat bersama dengan PT Sido Muncul, perusahaan jamu terkemuka di Indonesia, bekerjasama mengembangkan budi daya singkong gajah.
Untuk langkah awal kerjasama ini, pemerintah setempat menyiapkan hamparan lahan kering seluas hampir 100 hektar yang tersebar di enam kecamatan di Muna Barat, yakni kecamatan Sawerigadi, kecamatan Wadaga, kecamatan Lawa, kecamatan Napano Kusambi, kecamatan kusambi dan kecamatan Barangka.
Setelah lahan yang akan dijadikan lokasi penanaman singkong siap, pada Oktober atau November 2016 mendatang, bibit singkong siap ditanam.
“Lahan di Muna Barat angat cocom untuk pengembangan budi daya singkong gaja. Pemerintah dalam hal ini bupati sedang melakukan terkait kerjasama ini,” jelaa Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Muna Barat, Kasim Timau, yang ditemui Kamis pagi ini.
Sementara untuk pupuk, menurut Kasim, PT Sido Muncul akan langsung memasok langsung pada para petani.Mengenai bibit singkong gajah, akan didatangkan dari kabupaten Konawe Selatan yanh sudah lebih dulu membudidayakan varietes ketela unggul yang berasal dari pulau Kalimantan Timur.
“Masyarakat hanya tau membuka lahan menanam,merawat sampai pada tahap panen, dengan jaminan satu hektar 25 juta yang difasilitasi oleh Bank pembangunan Daerah bekerja sama dengan PT Sido Muncul, begitu juga untuk pemasaranya perusahaan akan langsung membelinya,” terang Kasim. Singkong gajah, merupakan ketela varietas unggulan dari Kalimantan Timur, yang mempunyai berat mencapai 40 kg per pohon. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik di dataran tinggi maupun dataran rendah
Hasil panen tanaman ini sudah paling bisa dipanen dalam jangka waktu 8 sampai 10 bulan. Dengan perhitungan ekonomi untuk per satu kilogram senilai Rp.700, sementara dalam satu rumpun itu dapat mencapai 20 kilogram.
Untuk di Sulawesi Tenggara selain Kabupaten Muna Barta, tiga daerah lainya yakni, Bombana, Konawe Selatan dan Konawe Utara juga turut membudidayakan tanaman asli dari negara Brazil ini.(B)

Reporter: Laode Pialo
Editor: Tahir Ose


Tentang Kami

PT. SINGKONG GAJAH INDONESIA UTAMA

Merupakan perusahaan yang didirikan di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Perusahaan ini didirikan oleh  Sdr. Erwien Rastana, SE.MM selaku Direktur Utama dengan Komisaris Utama Bpk. Prof.Dr.Ristono, MS selaku penemu metode pemuliaan Varietas Singkong Gajah DR.

Dengan berdirinya perusahaan ini, maka diharapkan dalam perkembangan pertanian di bidang Singkong khususnya dapat dikembangkan lebih baik. Terutama untuk varietas Singkong Gajah DR yang saat ini dikenal memiliki produktivitas dan kuantitas yang tinggi.
Saat inipun PT SGI Utama sedang mengembangkan varietas singkong lainnya yang khusus untuk kebutuhan Industri.

PT SGI Utama juga melayani pengadaan bibit tertentu, seperti bibit Sengon, Gaharu, Karet, Eucalyptus, Singkong Gajah DR dan Singkong Borneo. Pengadaan bibit ini berkerjasama dengan para Kelompok Tani binaan yang tersebar di berbagai daerah. Dengan sistem dan manajemen binaan ini, maka diharapkan terjalin kerjasama yang baik antara para petani dengan stakeholder industri pertanian dan pemerintah.

Sehingga tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pertanian dan pedesaan dapat terwujud bersama-sama.



Contoh kebun singkong gajah di Pulau Semaras

Semoga dengan berdirinya PT Singkong Gajah Indonesia Utama turut membantu masyarakat petani Indonesia semakin maju dan turut membantu program pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan Ekonomi Pertanian kedepan.

Salam Hormat,
PT.SGI Utama
Call Us : +62-8121779337
Email : erastana@gmail.com



Penemu Singkong Gajah Indonesia


Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Singkong_gajah

Singkong gajah adalah singkong varietas unggul dari Kalimantan Timur yang dapat berproduksi hingga 40 kg per pohon.[1] Singkong gajah dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, namun tidak dapat tumbuh baik di daerah rawa atau yang terus menerus sering tergenang air.[1] Dengan pertumbuhan yang normal, pohon singkong gajah dapat mencapai tinggi 4 sampai dengan 5 meter.[1] Ditemukan oleh Professor Ristono, guru besar Universitas Mulawarman, pada tahun 2006.[1] lalu dikembangkan pada tahun2008.[1] Produksi rata-rata Singkong Gajah segar jenis ini per hektar adalah 120 ton, Umur tanaman 10 bulan sudah dapat dipanen.[1]

Ciri-ciri Singkong Gajah[sunting | sunting sumber]

Ciri-ciri Singkong Gajah, antara lain:
  1. Daun muda berwarna ungu kemerahan;
  2. Hampir 99 persen pada singkong gajah umur 3-4 bulan ujung tunas akan bercabang 3 (tiga);
  3. Batang muda berwarna ungu kemerahan;
  4. Daun tampak lebih lebar dari singkong biasa.

Teknik Dasar Penanaman Singkong Gajah[sunting | sunting sumber]

Jarak Tanam pada penanaman Singkong Gajah perlu diperhatikan untuk memperoleh umbi, bibit, dan daun yang maksimal.[2] Keteraturan jarak tanam menghasilkan keindahan kebun dan juga mempermudah pemeliharaan tanaman seperti pemupukan, penyiangan, dan pemeliharaan bedeng.[2] Jarak tanam pada singkong ini berdasarkan hasil penelitian yang dpimpin oleh Prof. Ristono menunjukan adanya ketergantungan pada tingkat kesuburan tanah.[2] Pada tanah yang subur justru menghendaki jarak tanaman yang longgar karena keinginan singkong ini untuk keleluasaan membangun umbinya menjadi panjang, besar serta banyak.[2] Selain itu, percabangan batang dan pertumbuhan daun dan batang juga akan leluasa bisa mencapai tingkat kerimbunan yang cukup padat.[2] Keteraturan jarak antar pohon paling tidak satu meter, bahkan ada pula yang menanam dengan model jarak satu meter kali dua meter.[2] Sebaliknya, pada tanah yang tidak subur penanaman dengan ukuran jarak yang berdekatan walaupun umbi yang diproduksinya menjadi pendek.[2] Untuk memaksilmalkan produk maka tanaman ini menginginkan tumbuh pada tanah yang digulud atau dibedeng dengan tinggi gundukan sekitar 50 cm dan lebar bedeng paling tidak 70 cm.[2] Dengan bedeng sirkulasi air yang diperlukan tumbuhan ini menjadi lebih terjamin karena Singkong Gajah tidak senang hidup pada genangan air yang berlebihan.[2] Apabila singkong gajah terpaksa ditanam secara tumpang sari maka ia adalah tanaman yang dominan dala memperoleh sinar matahari sedangkan tanaman yang lainnya harus berada dibawahnya dan umur Singkong Gajah harus lebih tua daripada tanaman yang nebeng tersebut.[2] Oleh karena itu untuk tumpang sari sebaiknya dilakukan secara bersamaan penanaman dengan jenis tanaman yang dapat mendukung pertumbuhan singkong misalnya kacang tanah, kacang hijau, atau kedelai.[2] Teknik menanam singkong oleh petani di Indonesia bervariasi.[2] Untuk Singkong Gajah disarankan mengikuti banyaknya mata benih yang yang mungkin dapat tumbuh menjadi batang tanaman yaitu antara tiga hingga lima mata.[2] Ini berarti panjang benih dari 10 cm hingga 20 cm.[2]Diameter benih yang disarankan sekitar 1,5 cm yang diambil baigan yang relatif lebih muda.[2]

Teknik Dasar Pemeliharaan Tanah[sunting | sunting sumber]

Tanah yang telah dibuka untuk lahan penanaman singkong ini harus diberi kesempatan memperoleh sinar matahari yang cukup agar semua bagian dipermukaan tanah memperoleh oksigen yang diperlukan oleh mikroba tanah.[2] Penyuburan tanah menggunakan pupuk kandan atau pupuk organic berupa Bokasi atau kompos memerlukan sekitar 2 ton/hektar.[2] Akan lebih baik apabila pupuk ini bersamaan dengan proses penggemburan tanah, proses ini akan lebih cepat dan efisien apabila dibantu dengan input pupuk hayati.[2] Penggunaan Biotonik yang berkualitas pada awal penanaman diperlukan 2-4 liter/hektar yang berati pencampurannya 200–400 liter air.[2] Penambahan pupuk hayati ini perlu diulangi lagi ketika tanaman telah tumbuh dan berumur 1 bulan dan berikutnya setelah berumur 3 bulan dan 5 bulan.[2] Pada Awal tanam biasanya banyak terdapat tumbuhan rumput pengganggu ata gulma.[2] Untuk mengatasi gangguan ini sebaiknya dilakukan secara manual pada waktu tanaman umur satu bulan yaitu dengan menggunakan tangan karena tanah masih lentur dan rumput juga masih muda dan mudah dicabut.[2] Langkah selanjutnya dilakukan penyiangan secara manual pada umur tanam 2 bulan dan 4 bulan.[2] Pada singkong umur lebih dari 3 bulan rumput akan otomatis mati disekitar pohon karena ternaungi oleh daun singkong yang semakin rimbun.[2]Hasil penyiangan rumpt secara manual berupa rumput atau serasah lainnya yang sangat baik untuk bahan pupuk organik.[2] Pada waktu pemeliharaan tanah secara manual dilakukan, petani juga harus memeriksa ada tidaknya gangguan hama penyakit dan bahkan serangan hama tikus atau babi hutan.[2]

Pemberian Pupuk Organik[sunting | sunting sumber]

Kunci keberhasilan pertanian Sinkong Gajah terlihat dari pengolahan lahan sejak awal dan pemberian pupuk organik secara teratur.[2] Apabila dirasakan memang biaya yang diperlukan cukup tinggi, namun hasil yang diperoleh tinggi pula.[2] Apabila pemberian pupuk hanya menggunakan pupuk organik dan pupuk hayati dalam artian tidak menggunakan pupuk kimia sama sekali maka umbi yang dihasilkan paling tepat untuk bahan industri pangan rasa Singkong Gajah yang istimewa.[2]

Penggemburan Tanah[sunting | sunting sumber]

Penggemburan tanah akan lebih efektif dengan sekaligus menaburkan pupuk organik atau pupuk kandang sehingga percampuran bahan yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman sedini mungkin telah dilakukan.[2]

Teknik Dasar Pemanenan Singkong Gajah[sunting | sunting sumber]

Dalam memanen singkong tergantung pada teknik pemanenan dan dalam hal ini bagaimana keberhasilan mencabut umbi tersebut dari dalam tanah .[2] Pada tanah yang bersifat liat atau keras biasanya berusaha mencengkram umbi sehingga banyak yang tertinggal didalam tanah karena putus dan bahkan apabila tercabut pun dalam keadaan rusak.[2] Oleh karena itu teknik panen umbi singkong perlu dipelajari.[2] Dengan tanaman berada pada gulud atau bedeng maka proses pemanenan akan lebih mudah karena umbi yang dihasilkan sebagian besar berada di atas permukaan tanah utama dan gundukan tersebut relatif gembur.[2] Apabila waktu panen ternyata lahan kering atau keras maka dilakukan penggemburan tanah dengan menyiram tanah denga pompa air dan dibiarkan selama 1 (satu) malam agar pengemburan sampai ke ujung umbi/perakaran.[2]

Singkong Gajah di Sulawesi Tenggara


SULTRAKINI.COM: KENDARI  Jumat, 29 Januari 2016 10:59

- Bank Sultra menginisiasi perkembangan usaha pertanian berbasis singkong gajah. Hal ini sebagai upaya meningkatkan produktivitas usaha kecil dan menengah di Sulawesi Tenggara yang belum signifikan. 
Terlihat dari data Bank Indonesia bahwa kredit usaha produktif tahun 2015 dikalahkan oleh kredit konsumtif yang mencapai 61,9 persen.

Bank Sultra pun menjamin prospek pasar dari produksi pertanian singkong gajah yang saat ini dikembangkan di Kecamatan Sabilakoa, Kabupaten Konawe Selatan, melalui kemitraan dengan perusahaan jamu terkenal PT Sidomuncul.

Direktur Pemasaran Bank Sultra, Depid, menjelaskan pada langkah ini merupakan pilot projek untuk penciptaan UMKM berbasis pertanian di Sultra.

"Di 2016 ini, kami fokus  mengembangkan meningkatkan potensi kredit produktif, namun tidak dilakukan dengan langsung memberikan dana kredit secara langsung kepada masyarakat melainkan melalui peningkatan usaha yang digagas bersama," kata Depid kepada SultraKini.com, Kamis, (28/01/2016).

Menurutnya, untuk melaksanakan program usaha pertanian berbasis singkong gajah tersebut, Bank Sultra telah lebih dahulu melakukan kajian untuk melihat komoditas yang sesuai serta prospek pasarnya.

Untuk selanjutnya, program tersebut akan dilaksanakan oleh masyarakat dengan dampingan serta dukungan Bank Sultra, melalui pemberian kredit pada kelompok usaha petani yang terlibat.

"Jadi kami tidak memberikan kredit secara langsung seperti pada umumnya, namun dalam bentuk dukungan pada peningkatan usaha pertanian, misalnya pupuk atau peralatan," jelasnya.

Dijelaskannya juga, setelah usaha ini berjalan, maka hasilnya akan langsung dibeli oleh PT Sidomuncul yang telah melakukan MoU dengan Bank Sultra.

"PT Sidomuncul akan membeli berapa pun hasilnya, dengan harga minimum sebesar Rp700 per kilogram. Jadi kelompok usaha tani yang terlibat tak perlu ragu lagi dengan prospek pasar, karna Bank Sultra telah menjamin itu," tambahnya.

Untuk melaksanakan program ini, Bank Sultra tengah menyiapkan lahan seluas 50 Hektar untuk dijadikan percontohan pengembangan usaha pertanian singkong gajah di Sultra.

"Saat ini tahapannya sudah pada penyiapan lahan. Target 2016, program inj sudah bisa dilaksanakan, untuk selanjutnya jika berhasil maka akan dikembangkan ke daerah lain di Sultra," tutupnya.

Editor: M Djufri Rachim

Sumber : http://ww1.sultrakini.com/keuangan/bank-sultra-biayai-singkong-gajah-270.html

Selasa, 16 Februari 2016

Singkong Gajah dan Lingkungan

Untuk keperluan lingkungan hidup, 

Singkong Gajah sebaiknya ditanam di tanah tandus, lahan dengan tutupan alang-alang, tanah tidur, tanah terlantar dan tanah bekas tambang batu bara yang cukup luas di Kawasan Samarinda.  Pemanfaatan lahan seperti ini dengan metode pengolahan lahan yang berteknologi akan akan lahan berubah menjadi subur.  Hal ini didasarkan pada latar belakang keilmuan S2 ilmu lingkungan hidup dan sumber daya alam dari IPB oleh Ristono.  Adapun teknologi aplikatif pada dasarnya menggunakan prinsip meminimalkan penggunaan pupuk kimia, sebagai gantinya diperbanyak menggunakan pupuk organik seperti kompos, bokasi, pupuk hijau, dan pupuk hayati.  Yang dimaksud dengan pupuk hayati adalah pupuk yang menggunalan berbagai jenis mikroba, misalnya mikroba yang menghasilkan unsur-unsur N, P, dan K.  Penggunaan pupuk hayati ini bisa menghemat biaya untuk pemupukan hingga mencapai 50%. 
Prof Ristono bersama mahasiswa binaan ketika menjadi 2nd runner up
Kompetisi Lee Kuan Yu-2013 di Singapura
Ristono dalam penelitian dan penanamannya di Samarinda tidak menggunakan pupuk kimia.  Hasil penelitian ini diterapkan dibeberapa lokasi di Balikpapan dan Kutai Kartanegara.  Berdasarkan hasil penelitian di Kaltim ini dapat berguna untuk lingkungan lainnya.
 Tanaman Singkong Gajah hadir menjadi sumber usaha tani monokultur atau tumpangsari karena tanaman ini layak dibudidayakan oleh petani bersamaan dengan pengembangan tanaman lainnya. Untuk tumpangsari dengan tanaman jagung cukup menguntungkan petani sedangkan untuk pengembangannya akan diteliti tumpangsari dengan kacang tanah, kacang hijau, dan kedelai.
 Pengembangan secara terpadu dengan bidang peternakan dan perikanan darat sudah dilakukan penelitian di Kecamatan Marangkayu dan Kecamatan Samboja di Kabupaten Kutai Kartanegara oleh Ristono. Hasil uji coba menunjukkan berpeluang untuk dikembangkan karena menguntungkan bagi lingkungan hidup. Paling tidak kolam-kolam ikan mengurangi banjir.  Hal ini masih perlu kajian lanjut untuk dapat diaplikasikan oleh masyarakat.   Karena variasi dengan jenis ternak cukup banyak dan untuk jenis perikanan darat juga begitu. 
Singkong Gajah, warna umbi putih bersih.

 Daun dan umbinya bermanfaat sebagai sumber pangan dan gizi bagi manusia,  ternak, dan ikan.  Ia berpotensi untuk ketahanan pangan dan biofuel.  Produk hilir untuk makanan, pakan dan pupuk membuka lapangan industri yang multidimensi sehingga ia juga berpeluang untuk Pengembanan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.  Penanaman Singkong Gajahdengan prinsip lingkungan hidup memungkinkan kontinuitas penggunaan tanah dengan teknologi pemupukan dan pemeliharaan tanaman.  Pemeliharaan tanaman yang utama adalah penyiangan rumput-rumput pengganggu.  Tantangan IPTEK yang aplikatif diharapkan dapat segera hadir untuk ini, karena selama ini Ristono masih menggunakan herbisida untuk pembasmian rumput pengganggu.  Teknologi aplikatif untuk menghindari gangguan rumput adalah mengatur jarak tanam sehingga canopy tanaman memugkinkan rumput-rumput tidak tumbuh di bawahnya.
 Nilai ekonomi dan ekologi tanaman ini secara menyeluruh berasal dari daun, batang dan akarnya menopang pendapatan perorangan, keluarga, dan negara. Manfaat bagi lingkungan hidup cukup besar karena tanaman Singkong Gajahmampu ikut serta mengendalikan kadar CO2 di udara.  Tanaman ini dalam masa pertumbuhan memiliki riap yang tinggi pada hijauannya. Keteraturan penanamannya menghasilkan keindahan tersendiri menumbuhkan estetika yang menyehatkan rohani bagi yang menikmatinya. Tanaman Singkong Gajahsebagai tanaman hijauan yang riapnya termasuk cepat serta sistem perakarannya bisa mengikat air tanah sehingga berfungsi untuk mengendalikan banjir.  Fungsi ini bermanfaat nyata bahwa Singkong Gajahikut serta menjaga lingkungan hidup.
 Kemampuan tumbuh tanaman Singkong Gajahdi lahan tandus sudah diuji melalui penelitian sederhana di wilayah kecamatan Samboja dengan hasil cukup baik. Atas hasil inilah maka Ristono menyarankan untuk keperluan lingkungan hidup agar memanfaatkan lahan kurang subur di dataran rendah hingga dataran tinggi.
 Tanaman ini tahan terhadap kekeringan menjadikan dirinya mampu berperan sebagai tumbuhan penyangga kelestarian alam.  Tidak diragukan lagi bahwa tanaman yang ramah lingkungan ini mampu menjadi tanaman basis dan tanaman pionir pada lahan-lahan kritis atau lahan marjinal termasuk untuk reklamasi lahan pada hutan-hutan yang telah rusak maupun untuk reklamasi lahan bekas tambang batubara.  Bahkan tanaman ini menurut Ristono dapat digunakan sebagai indikator dari kesuburan tanah.
 Singkong Gajah mengadung beberapa Vitamin penting untuk kesehatan lebih-lebih zat karsinogeen untuk melawan kanker. Walaupun kandungan zat ini umumnya ada pada singkong pahit (bitter casava), namun tidak deminian berlaku pada Singkong Gajah.
 Problema peningkatan jumlah penduduk dan ketahanan pangan di dunia ini akan dapat diatasi dengan Singkong Gajahyang dikelola dengan teknologi dari tingkat tradisional hingga moderen. Pola makan penduduk dunia harus diarahkan kepada perubahan yang dimulai pola konsumsi makanan campuran khususnya menghindari ketergantungan pada jenis bahan makanan seperti beras, gandum, dan jagung yang dapat digantikan atau disubstitusi dengan bahan baku produk tanaman ini. Hal ini berarti bahwa pengembangan industrialisasi berbahan baku singkong dikembangkan lebih serius dimulai untuk ketahanan pangan penduduk manusia. Oleh karena itu tanaman ini menjadi komoditas yang berpeluang dan prospektif untuk dikembangkan dengan pendekatan agroindustri dan agribisnis.
 
Beberapa tanaman jika dipelihara baik, dapat mencapai
berat 45 kg per pohon.
Sebagai bahan baku bahan bakar, Singkong Gajahdi masa mendatang akan menjadi pengganti atau pendamping Minyak dan Gas Bumi (MIGAS). Hal ini memungkinkan memberikan solusi bagi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selalu menjadi masalah manusia bumi sehari-hari yang tidak berkesudahan.  Pengembangan BBM alternatif ini dapat menambah  pengetahuan dan wawasan khususnya di bidang teknologi dan industri.  Perjuangan penulis menuju realisasi terwujudnya regulasi dan perundangan mengenai Bioetanol berpihak pada ”rakyat kecil” di mana pelaku bisnis ini bukan dikuasai oleh ”konglomerasi”.
 Sehubungan dengan masalah kemanusiaan di mana bencana alam dan bahkan bencana kelaparan maupun kelangkaan bahan bakar selalu terjadi dan semakin menghantui semua bangsa di dunia ini, maka harapan penulis agar Singkong Gajahsebagai salah satu solusinya.
 Peningkatan produktivitas tanaman dinyatakan dengan satuan kg/ha per tahun. Dalam hal ini kita pikirkan untuk skala kebun yang umum.  Dengan perawatan tataman, pemupukan, penjagaan terhadap hama dan penyakit, penjagaan terhadap kadungan air tanah diharapkan Singkong Gajah produktivitas umbinya mencapai 100 Ton per Ha sekali panen per tahun, umur panen 1 tahun. 
Meskipun besar, singkong gajah relatif tidak menjadi kayu,
meskipun usia sampai dengan 12 bulan.
Terpikirkan untuk ”menggantikan keju dengan singkong” seperti adanya lagu ”Anak Singkong” yang ditenarkan oleh penyanyi almarhum Ari Wibowo. Perjuangan Singkong Gajah menyadur syair dari lagu karya Koes Plus yang berjudul ”Kolam Susu” di mana ”tongkat kayu jadi tanaman”, wujud nyatanya “tongkat kayu” adalah Ubi Kayu atau singkong gajah. Dengan demikian, perjuangan Singkong Gajahuntuk membantu percepatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Adil dan Makmur penuh dengan ”susumendekati kenyataannya.
Lahan marginal di Indonesia sangat luas dan bila tidak digunakan akan menyebabkan erosi, kebakaran dan menurunnya kesuburan tanah. Tanaman singkong sangat adaftif sehingga dapat tumbuh dan berproduksi di lahan kering dan tanah tidak subur.  Penggunaan teknologi aplikatif yang disarankan oleh Ristono boleh diperhatikan karena berakibat perbaikan lingkungan hidup.
(buku : Singkong Gajah Berjuang - PRof.Dr.Ristono, MS)