Minggu, 27 September 2015

Singkong Gajah DR

23 Mei 2014 - Jokowi dan Prof.Dr.Ristono, MS (Penemu Varietas Singkong Gajah DR)

Sabtu, 24 Mei 2014, 07:55

VIVAnews - Usai mengukuhkan barisan relawan Projo, Jumat sore, 23 Mei 2014, calon presiden Joko Widodo menyempatkan diri untuk mendengarkan keluh kesah seorang petani singkong gajah. Petani yang belakangan diketahui bernama Prof. Ristono itu memanfaatkan momentum kunjungan Jokowi, sapaan calon presiden dari PDI Perjuangan itu, untuk menyampaikan aspirasinya. Dia ingin Jokowi, jika menang dalam pertarungan Pemilihan Presiden 9 Juli nanti, bisa memperhatikan kondisi para petani singkong gajah di wilayah Kalimantan Timur.Selama ini, kata dia, pemerintah tidak memperhatikan para petani singkong gajah. Ristono merupakan penemu varietas singkong gajah. Selain itu pemerintah tidak mematenkan singkong gajah. "Para petani khawatir singkong gajah akan diklaim negara lain, seperti Malaysia dan Singapura yang belakangan mulai melirik singkong gajah," kata Ristono.
Sementara itu, Jokowi menilai singkong gajah memiliki makna tersendiri baginya. "Singkong ini adalah salah satu makanan favorit saya semasa kecil," kata Jokowi.
Oleh sebab itu, Jokowi berjanji, jika dipercaya menjadi presiden dalam pilpres nanti, akan segera mematenkan singkong gajah sebagai umbi asli Indonesia temuan anak bangsa. (ren)
(tvOne/Iqbal Abdullah)
© VIVA.co.id
http://politik.news.viva.co.id/news/read/506940-singkong-gajah-dijanjikan-akan-dipatenkan

Singkong Sebagai Pangan Andalan


Singkong Sebagai Pangan Andalan

Di NKRI, singkong biasanya hanya digunakan sebagai pakan ternak dan atau sebagai bahan pangan tradisional nomor tiga setelah beras dan jagung. Memang, di beberapa daerah, singkong sudah digunakan sebagai bahan baku industri (35%) yang tingkat kebutuhannya mulai bersaing dengan kebutuhan konsumsi langsung sebagai bahan pangan (62%).   Sejauh ini pemanfaatan singkong masih sebatas untuk pangan yang dapat langsung dikonsumsi seperti direbus, digoreng, dikukus, dan lain-lain. Apabila kita perhatikan bahwa harga tepung terigu semakin mahal maka Industri Mocaf semestinya disegerakan berkembang di Indonesia. Hal ini harus disadari adanya permintaan  kebutuhan terigu semakin meningkat seiring dengan perubahan pola konsumsi makanan masyarakat yang mengarah ke Western Foods yang dianggap sebagai Modern Style.  Demikian juga dengan semakin menjamurnya berbagai jenis industri dan usaha pengolahan makanan yang berbahan dasar terigu harus segera diimbangi dengan Mocaf berbahan baku Singkong Gajah.



Beberapa upaya yang telah dilakukan Pemerintah untuk mendorong industrialisasi tepung singkong walaupun belum menyeluruh di wilayah NKRI ini.  Di berbagai tempat telah dilakukan pemberian stimulus pengembangan tepung-tepungan pada usaha mikro, kecil, dan menengah  (UMKM) yang bergerak di bidang pangan.  Telah dilakukan pula tindak sosialisasi, advokasi dan pembinaan peningkatan pemanfaatan tepung-tepungan, dengaan cara pemberian peralatan pengolahan kepada UMKM dalam upaya meningkatkan produktivitas dan mutu tepung atau hasil usaha yang dihasilkan. Hal ini juga  mendorong keterlibatan perguruan tinggi.  Walaupun demikian dampak positifnya belum tampak nyata.  Oleh karena itu masih diperlukan usaha keras untuk mengupayakan pencitraan agar tepung singkong menjadi Tepung Pangan Nasional.  Untuk itu, diharapkan adanya sinkronisasi dan sinergitas berbagai pihak yaitu antara pemerintah, petani, industri dan pelaku bisnis, pakar, peneliti, asosiasi, akademisi dan pihak-pihak terkait lainnya.  Dari kajian penulis, terlihat bahwa industri pangan berbasis singkong terkendala ketidakpastian yang sering muncul yang berupa fluktuasi harga singkong yang tidak stabil yang dipengaruhi oleh musim panen yang sering tak menentu.  Kiranya dengan pertanian singkong yang beerteknologi dan bermodalkan keuangan yang mencukupi kendala-kendala tersebut akan dapat dikurangi. (prof.ristono)

CARA BUDIDAYA SINGKONG GAJAH


CARA BUDIDAYA SINGKONG GAJAH DR 
SINGKONG SUPER BESAR ENAK RASANYA


Singkong alias ketela pohon mungkin sampai saat ini masih identik dengan image kemiskinan. Yaa karena umumnya singkong menjadi tanaman andalan di daerah yang tandus dan kurang air dan menjadi makanan pokok didaerah tandus tadi. Namun kini singkong telah menjadi tanaman yang cukup menguntungkan dengan adanya pemuliaan tanaman singkong oleh para ahli pertanian di Indonesia. Kalau jaman dulu kita kenal ketela mukibat yang umbinya lumayan gede, kini telah muncul singkong super yang diberi nama Singkong Gajah. 

Singkong Gajah umur 12 Bulan - Samarinda

Puji Tuhan, seorang peneliti dari Samarinda bernama Prof. Dr Ristono MS, Mantan Dosen Di Universitas Mulawarman, telah berhasil menemukan Varietas Singkong Super tadi. Singkong Temuannya umbinya berukuran Super Besar Dibanding Singkong Pada Umumnya. Lihat saja sendiri Umbinya Bisa Mencapai 50 Kg/pohon. Kalau singkong Biasa berat umbi Maksimal Seberat 3 Kg/pohon, sangat jauh berbeda bukan. Makanya singkong ini kemudian dikenal dengan nama singkong gajah. 
Disamping super besar, Singkong Gajah Juga lebih enak rasanya dan lebih Tahan Terhadap Serangan Hama. Singkong Gajah rasanya lebih gurih dan tekstur umbi lebih lunak jika dibandingkan dengan singkong biasa. Cuma kalau mau digoreng utuh kayaknya wajan dirumah anda tidak muat deh...:). 
Banyaknya permintaan sigkong baik untuk makanan, makanan ternak serta yang baru-baru ini ada bietanol, berkebun singkong gajah ini layak untuk diusahakan secara profitable. Apalagi bibit Singkong gajah kini sudah banyak menyebar di Indonesia tidak hanya di kalimantan timur saja. 
Untuk budidaya singkong gajah tidaklah sulit seperti tanam singkong biasa saja. Berikut ini cara budidaya singkong gajah.

A. SYARAT PERTUMBUHAN 
1. IKLIM
  1. Untuk dapat berproduksi optimal, ubikayu memerlukan curah hujan 150- 200 mmpada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100- 150 mm pada fase menjelang dan saat panen (Wargiono, dkk., 2006).
  2. Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela pohon/singkong sekitar 10 derajat C. Bila suhunya dibawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
  3. Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon/singkong antara 60 – 65%.
  4. Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon / singkong sekitar 10 jam / hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.
contoh tanah yang telah siap tanam singkong gajah
2. MEDIA TANAM
  1. Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon / singkong adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah.
  2. Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon / singkong adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
  3. Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5 – 8,0 dengan pH ideal 5,8. pada umumnya tanah di Indonesia ber pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0- 5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.

B. PEDOMAN BUDIDAYA 
a) BIBIT
  1. Gunakan varietas unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi, disukaikonsumen, dan sesuai untuk daerah penanaman. Sebaiknya varietas unggul yang dibudidayakan memiliki sifat toleran kekeringan, toleran lahan pH rendah dan/atau tinggi, toleran keracunan Al, dan efektif memanfaatkan hara P yang terikat oleh Al dan Ca.
  2. Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
  3. Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam
  4. Batang telah berkayu dan berdiameter ± 2,5 cm lurus.
  5. Belum tumbuh tunas-tunas baru 
Bibit yang telah siap tanam

b) PENGOLAHAN MEDIA TANAM
a. Persiapan, kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah :

Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan atau cairan pH tester.
Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.
Penetapan jadwal / waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanaman lainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman sejenis.
Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga saat panen dan pasar.

b. Pembukaan dan Pembersihan Lahan
Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar tanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada.

c. Pembentukan Bedengan (Guludan)
Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti permbersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.
Contoh guludan tanah berbukit
d. Pengapuran (Bila diperlukan)
Untuk menaikan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat asam / tanah gambut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan adalah 1 – 2,5 ton / hektar. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

C. TEKNIK PENANAMAN
  1. Penentuan Pola Tanam Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang digunakan pada pola monokultur adalah 80 x 120 cm.
  2. Cara Penanaman Sebelum bibit ditanam disarankan agar bibit direndam terlebih dahulu dengan pupuk hayati MiG-6 Plus yang telah dicampur dengan air selama 3-4 jam. Setelah itu baru dilakukan penanaman dilahan hal ini sangat bagus untuk pertumbuhan dari bibit.
  3. Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon, kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

D. PEMELIHARAAN TANAMAN
Penyulaman

Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas. Penyiangan Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/tanaman liar./ pengganggu (gulma) yang hidup disekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 kali penyiangan. Periode kritis atau periode tanaman harus bebas gangguan gulma adalah antara 5-10 minggu setelah tanam. Bila pengendalian gulma tidak dilakukan selama periode kritis tersebut, produktivitas dapat turun sampai 75% dibandingkan kondisi bebas gulma. Pembubunan Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah disekitar tanaman dan setelah dibuat seperti gundukan. Waktu pembubunan bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan /ditutup dengan tanah agar akan tidak kelihatan. Perempelan / Pemangkasan Pada tanaman ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3, hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi dimusim tanam mendatang. 

E. PEMUPUKAN

Pemupukan Secara Konvensional / Kebiasaan Petani Pemupukan dilakukan dengan system pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea : 135 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 135 kg. pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K = 1/3 : 1: 1/3 atau Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg (sebagai pupuk dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K = 2/3:0:2/3 atau Urea : 85 kg dan KCL : 85 kg. Pemupukan dengan Sistem Teknologi MiG-6 Plus Sistem pemupukan menggunakan teknologi MiG-6 Plus , dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia/anorganik sampai dengan 50%, adapun cara pemupukannya adalah sebagai berikut : Disarankan saat pengolahan lahan diberikan pupuk kandang pada setiap lubang yang akan ditanami bibit. Kebutuhan 5ton/ha. 3 hari sebelum tanam diberikan 2 liter MiG-6 Plus per hektar dengan campuran setiap 1 liter MiG-6 Plus dicampur/dilarutkan dengan air max 200 liter atau 1 tutup botol (10 ml) dicampur/dilarutkan dengan air sebanyak 2 liter (jumlah air tidak harus 200 liter boleh kurang asal cukup untuk 1 hektar) disemprotkan pada lahan secara merata disarankan disemprotkan pada pupuk kandang/kompos agar fungsi dari pupuk kandang/kompos lebih maksimal. Setelah 3 hari bibit / stek siap ditanam. 5 hari setelah tanam berikan campuran pupuk NPK dengan dosis Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg pada lahan 1 hektar, 1 pohon diberikan campuran sebanyak ± 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm. Pemberian MiG-6 Plus selanjutnya pada saat tanaman singkong berumur 2 bulan :2 liter, umur 4 bulan : 2 liter, umur 6 bulan : 2 liter dan 8 bulan : 2 liter. Pemberian pupuk anorganik selanjutnya pada umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk N:P:K dengan dosis Urea : 85 kg, dan KCL : 85 kg. Asumsi bila 1 hektar lahan ditanam 7.500 pohon berarti 1 pohon diberikan sebanyak ± 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm.
anak Prof. Ristono panen Singkong Gajah

F. PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN

Kondisi lahan ketela pohon dari awal tanam sampai umur ± 4-5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab tapi tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. System yang baik digunakan adalah system genangan sehingga air dapat sampai kedaerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan system genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan. 

G. WAKTU PENYEMPROTAN PESTISIDA / INSEKTISIDA

Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama/penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati.

Organic Mixed Farming Integrated Industry


Organic Mixed Farming Integrated Industry

Organic Mixed Farming Integrated Industry adalah suatu konsep pengelolaan pertanian, perkebunan berbasis pada konsep pelestarian soil sehingga tidak terjadi degradasi soil dan difisit hara dan isi melalui konsep manajemen dan teknologi recycle limbah pertanian untuk pakan ternak dan limbah ternak untuk rehabilitasi soil melalui pembuatan pupuk organic yang dibuat dart limbah pertanian/perkebunan dipadukan dengan kotoran ternak melalui konsep teknologi Pengolahan Tanah dalam dan Soil Improvement yang berarti konsep tersebut adalah konsep teknologi pembangunan pertanian dan perkebunan yang berwawasan lingkungan, berkesinambungan. berkelanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat (community development).

Teknologi Organic Mixed Farming Integrated Industry adalah suatu konsep teknologi yang efesien, efektif, produktif yang akan mampu meningkatkan prduktivitas lahan dan kualitas komoditas yang dihasilkan dengan basis organik yang akan meningkatkan nilai ekonomi dan nilai tambah (added .Value) tinggi serta pelestarian soil serta multi efek player.

Sejarah SINGKONG GAJAH RISTONO


Pada tahun 1992, Dr. Ristono, MS, yang bertempat tinggal di Kota Samarinda, Provinsi Kalimatan Timur, melakukan penelitian singkong. Penelitian terebut diawali dengan penanaman singkong karet yang tumbuh secara liar di Kalimantan Timur yang umbinya sulit diketemukan hanya panjang ( mrentel-mrentel)  tidak enak dimakan tumbuhnya segar dan menaun kadang bisa membesar dan meninggi bisa umur sampai 30 tahun, disekitarnya dengan jarak lebih kurang 2 m ditanam singkong yang enak rasanya yang berasal dari berbagai tanaman dari lokasi transmigrasi Kalimantan Timur terutama dari Kabupaten Kutai Kartanegara yang ubinya kecil s/d sedang dengan diameter 3-4 cm, panjang umbi 30 cm (rasanya enak waktu peneliti masih muda makan singkong di jawa rasanya enak dan pulen, maka rasa yang enak tadi disebut “Gatot Kaca”). 

Penanaman dilakukan dilokasi berdekatan dengan rumah tinggal peneliti yang berlokasi di  Jalan  Pramuka  Komp. Gunung Kelua, Kec. Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Provinsi Kalimatan Timur dengan luas lahan 400 m2.
Varietas Singkong Gajah telah didaftarkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian. Sebagai Varietas Hasil Pemulian, Nomor: 183/PVHP/2013.
Tanggal 18 Nopember 2013.