Minggu, 16 Agustus 2015

Sejarah Singkong Gajah


Sejarah Singkong Gajah DR


Prestasi baru di dunia tanaman pangan kembali terjadi. Setelah ditemukannya varietas benih padi yang mampu tandingi padi hibrida dari segi produktivitas dengan markas riset di Lampung, kini hadir varietas singkong berukuran jumbo yang ditemukan seorang profesor asal Samarinda, Kalimantan Timur.

Adalah Profesor Dr Ristono MS, mantan dosen di Universitas Mulawarman, yang sukses menemukan varietas singkong jumbo tersebut. Julukan “jumbo” pada singkong temuannya itu tak berlebihan mengingat ukurannya yang super besar dibanding singkong pada umumnya. Tengok saja berat umbinya yang bisa mencapai 60 kg per pohon padahal singkong biasa per pohon hanya berumbi maksimal seberat 3 kg.

Prof. DR. Ristono, MS 

Penelitian singkong yang juga terkenal dengan sebutan singkong gajah ini memakan waktu relatif lama. Profesor Ristono menghabiskan waktu sekitar 10 tahun, dari tahun 1992 sampai 2002, dengan melakukan serangkaian percobaan seperti pencangkokan singkong lokal dengan singkong karet. Setelah sukses bereksperimen, singkong berukuran jumbo dengan varietas yang layak untuk dikonsumsi pun ditemukannya.

Menurut profesor Ristono yang juga berprofesi sebagai Guru Besar STT Migas Balikpapan, cara tanam singkong yang varietasnya hanya bisa dijumpai di Kalimantan Timur ini tergolong mudah. Dengan sistem stek, yakni memotong batang singkong lalu menanamnya ke tanah yang gembur, pun bisa tumbuh. Hasil dari cocok tanam seperti itu menghasilkan panen berbeda kualitas dengan yang hasil tanam melalui proses okulasi atau pencangkokkan.

Bertekad membudidayakan singkong gajah ini, prof Ristono menggandeng LSM Borneo Environment Community (BEC), menggarap lahan seluas 2 hektare untuk budi daya singkong gajah di daerah Barambai, Sempaja Utara. Upaya untuk terus membudi daya singkong jumbo itu juga dilakukannya di daerah lain yang meliputi Desa Bukit Parianan, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Desa Lamaru Balikpapan, Desa Sepaku Penajam Paser Utara, Berau, Malinau, Paser serta Universitas Borneo Tarakan.

Profesor Ristono mengungkapkan, modal yang dibutuhkan untuk membudi daya singkong gajah ini relatif besar. Lulusan Universitas Tokyo, Jepang, itu menuturkan, diperlukan dana antara Rp10 juta sampai Rp20 juta per hektarenya guna pembukaan dan penyiapan lahan, pembelian bibit, pupuk, pemeliharaan dan biaya lain pascapanen. Namun modal yang besar itu sepadan dengan panen yang diperoleh. Profesor Ristono menjelaskan, saat singkong gajah berusia 4-9 bulan, beratnya bekisar 15-46 kg. Dibandingkan dengan singkong biasa dengan masa tanam yang sama, yakni 2-5 kg, singkong gajah tentu lebih unggul.

Selain unggul dalam bidang berat, singkong jumbo juga mempunyai keunggulan di bidang cita rasa dan daya tahan terhadap serangan hama. Singkong gajah ini dinilai mengandung cita rasa yang lebih gurih dan teksturnya pun juga lebih lunak dibanding singkong biasa. Lalu, apakah singkong “raksasa” ini mempunyai nilai ekonomis sebagai salah satu produk komoditas?

Sebagai penghitungan kasar, bila singkong gajah ditanam dengan jarak 1 meter pada luas lahan 1 hektare, berat rata-rata umbi untuk 1 cabutan batang adalah 20 kg. Bila ditanam dengan jarak 1,5-2 meter, berat umbi bisa mencapai 35 hingga 40 kg per batangnya. Dengan nilai jual di pasaran sekitar Rp2.000-Rp4.000 per kg, maka pendapatan yang diperoleh antara Rp100 juta hingga Rp200 juta per hektare.

Hitung-hitungan terburuknya, dengan harga Rp1.000 per kg pada saat panen raya maka hasil yang didapat adalah 20 kg x 10 ribu batang x Rp1.000 = Rp200 juta. Sungguh sangat menjanjikan, karena dengan modal Rp 20 juta, seorang petani singkong gajah dapat memperoleh pendapatan Rp200 juta dalam waktu 9 bulan. Itu baru dari hasil penjualan umbinya saja, belum dari produk-produk turunannya, atau pengolahan limbahnya. Maka tidak menutup kemungkinan, bakal lahir miliarder-miliarder baru berkat singkong temuan profesor Ristono ini.  

(sumber : http://ciputraentrepreneurship.com)

SINGKONG GAJAH BERJUANG

SINGKONG GAJAH BERJUANG

Oleh:  Prof. Dr. Ristono, M.S

Singkong Gajah penemuan Prof.  Dr. Ristono, M.S mulai disosialisasikan tahun 2008 merupakan hasil penelitiannya yang dimulai tahun 1992.  Sekarang yaitu Agustus 2013 penyebaran benih telah mencapai hampir seluruh wilayah Indonesia.  Dan tidak menutup kemungkinan bibit telah ditanam di mancanegara. 

Apa yang diperjuangkannya?

Singkong Gajah dari Provinsi Kalimatan Timur telah dicoba ditanam di berbagai jenis tanah dari tanah marginal yang tandus hingga yang subur dan dari tanah terbuka hingga tanah yang ternaungi. Tempat penanaman bukan hanya di wilayah Pulau Kalimantan  namun juga telah dicoba di Pulau Sumatera, Jawa, Pulau Sulawesi, Pulau Halmahera, dan Pulau Papua. Ketinggian lahan dicoba hingga 1.500 meter di atas permukaan air laut untuk tanaman ini masih berproduksi dengan baik.  Sedangkan bibit yang ditanam yang murni dari penemunya dengan diameter 0,5 cm hingga 3,5 cm dan panjang benih dari 5 cm hingga 50 cm. Hasil penanaman tersebut membuat penulis semakin bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berlandaskan Iman dan Taqwa penulis yakin  tanaman ini menunjukkan kualitas  dan kuantitas yang layak menjadi obyek untuk diperjuangkan dalam lingkup kemanusiaan khususnya perbaikan ekonomi kerakyatan dan lingkungan hidup.

Tanaman ini hadir menjadi sumber usaha tani monokultur atau tumpangsari karena tanaman ini layak dibudidayakan oleh petani bersamaan dengan pengembangan tanaman lainnya. Bahkan pengembangan secara terpadu dengan bidang peternakan dan perikanan. Daun dan umbinya bermanfaat sebagai sumber pangan dan gizi bagi manusia,  ternak, dan ikan.  Ia berpotensi untuk ketahanan pangan dan biofuel.  Produk hilir untuk makanan, pakan dan pupuk membuka lapangan industri yang multidimensi sehingga ia juga berpeluang untuk pengembanan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 

Sejak Januari 2013, walau dalam keadaan sakit stroke, penulis melanjutkan penelitiannya tentang kayu dari Singkong Gajah ini.  Hasilnya lebih lanjut diserahkan kepada rekannya yang Guru Besar di bidang perkayuan.  Untuk perbaikan lingkungan hidup penulis menggandeng Guru Besar dari Universitas Mulawarman.

Nilai ekonomi dan ekologi tanaman ini secara menyeluruh berasal dari daun, batang dan akarnya menopang pendapatan perorangan, keluarga, dan negara. Manfaat bagi lingkungan hidup cukup besar karena mampu ikut serta mengendalikan kadar CO2 di udara karena tanaman ini dalam masa pertumbuhan memiliki riap yang tinggi pada hijauannya. Keteraturan penanamannya menghasilkan keindahan tersendiri menumbuhkan estetika yang menyehatkan rohani bagi yang menikmatinya. Kemampuan tumbuh di lahan tandus hingga pada lahan yang subur di dataran rendah hingga dataran tinggi, tanaman ini tahan terhadap kekeringan menjadikan dirinya mampu berperan sebagai tumbuhan penyangga kelestarian alam.  Tidak diragukan lagi bahwa tanaman yang ramah lingkungan ini mampu menjadi tanaman basis dan tanaman pionir pada lahan-lahan kritis atau lahan marjinal termasuk untuk reklamasi lahan pada hutan-hutan yang telah rusak maupun untuk reklamasi lahan bekas tambang batubara.  Bahkan tanaman ini digunakan oleh penemunya sebagai indikator dari kesuburan tanah.

Problema peningkatan jumlah penduduk dan ketahanan pangan di dunia ini akan dapat diatasi dengan Singkong Gajah yang dikelola dengan teknologi dari tingkat tradisional hingga moderen. Pola makan penduduk dunia harus diarahkan kepada perubahan yang dimulai pola konsumsi makanan campuran khususnya menghindari ketergantungan pada jenis bahan makanan seperti beras, gandum, dan jagung yang dapat digantikan atau disubstitusi dengan bahan baku produk tanaman ini. Hal ini berarti bahwa pengembangan industrialisasi berbahan baku singkong dikembangkan lebih serius dimulai untuk ketahanan pangan penduduk manusia. Oleh karena itu tanaman ini menjadi komoditas yang berpeluang dan prospektif untuk dikembangkan dengan pendekatan agroindustri dan agribisnis.  Singkong Gajah mengadung beberapa Vitamin penting untuk kesehatan lebih-lebih zat karsinogeen untuk melawan kanker.

Sebagai bahan baku bahan bakar, Singkong Gajah di masa mendatang akan menjadi pengganti atau pendamping Minyak dan Gas Bumi (MIGAS). Hal ini memungkinkan memberikan solusi bagi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selalu menjadi masalah manusia bumi sehari-hari yang tidak berkesudahan.  Pengembangan BBM alternatif ini dapat menambah  pengetahuan dan wawasan khususnya di bidang teknologi dan industri.  Perjuangan penulis menuju realisasi terwujudnya regulasi dan perundangan mengenai Bioetanol berpihak pada ”rakyat kecil” di mana pelaku bisnis ini bukan dikuasai oleh ”konglomerasi”.

Sehubungan dengan masalah kemanusiaan di mana bencana alam dan bahkan bencana kelaparan maupun kelangkaan bahan bakar selalu terjadi dan semakin menghantui semua bangsa di dunia ini, maka harapan penulis agar Singkong Gajah sebagai salah satu solusinya.

Permasalahnannya, kapan Singkong Gajah sampai dikenal dunia. Bagaimana manusia bisa memanfaatkan tanaman yang unik ini.  Informasi penyebaran dan dapaknya cukup memuaskan, karena telah mendorong ilmuwan muda ikut serta meneliti dan mengembangkannya.  Terbukti batang kayunya diteliti karena bernilai ekonomi kreatif.

Untuk sementara kekhasan Singkong Gajah sebagai Sweet Cassava telah menunjukkan produktivitas yang tinggi  dan kualitasnya dengan rasanya yang enak. Penelitian Singkong Gajah terus dilanjutkan dengan mengundang para ahli di bidangnya.   Penulis selalu berdoa agar penghargaan di bidang penelitian dan penemuan di Indonesia semakin dihargai.  Sedangkan produktivitas umbinya mencapai 100 Ton per Ha sekali panen per tahun, umur panen 1 tahun.

Terpikirkan untuk ”menggantikan keju dengan singkong” seperti adanya lagu ”Anak Singkong” yang ditenarkan oleh penyanyi almarhum Ari Wibowo. Perjuangan Singkong Gajah  menyadur syair dari lagu karya Koes Plus yang berjudul ”Kolam Susu” di mana ”tongkat kayu jadi tanaman”, wujud nyatanya adalah Ubi Kayu itu. Dengan demikian, perjuangan Singkong Gajah untuk membantu percepatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Adil dan Makmur penuh dengan ”susu” mendekati kenyataanya.

Melalui tulisan ini diharapkan pembaca lebih mengenal dan memahami mengenai Singkong Gajah, sehingga membantu pengembangan dan peningkatan teknologi pangan serta teknologi kayunya untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.  Dengan semangat gotong-royong yang merupakan makna hakiki dari  Pancasila dasar dari negara kita.

Semoga tulisan ini dapat memberikan sumbangsih bagi perjuangan  penyelamatan manusia di Bumi yang satu ini, khususnya dari kelangkaan pangan, kayu dan bahan bakar.  Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik ke arah perbaikan senantiasa kami terima dengan tangan terbuka dan ucapan terima kasih.


   Samarinda 20 Agustus 2013


Prof. Dr. Ristono, M.S