Minggu, 27 September 2015

Singkong Gajah DR

23 Mei 2014 - Jokowi dan Prof.Dr.Ristono, MS (Penemu Varietas Singkong Gajah DR)

Sabtu, 24 Mei 2014, 07:55

VIVAnews - Usai mengukuhkan barisan relawan Projo, Jumat sore, 23 Mei 2014, calon presiden Joko Widodo menyempatkan diri untuk mendengarkan keluh kesah seorang petani singkong gajah. Petani yang belakangan diketahui bernama Prof. Ristono itu memanfaatkan momentum kunjungan Jokowi, sapaan calon presiden dari PDI Perjuangan itu, untuk menyampaikan aspirasinya. Dia ingin Jokowi, jika menang dalam pertarungan Pemilihan Presiden 9 Juli nanti, bisa memperhatikan kondisi para petani singkong gajah di wilayah Kalimantan Timur.Selama ini, kata dia, pemerintah tidak memperhatikan para petani singkong gajah. Ristono merupakan penemu varietas singkong gajah. Selain itu pemerintah tidak mematenkan singkong gajah. "Para petani khawatir singkong gajah akan diklaim negara lain, seperti Malaysia dan Singapura yang belakangan mulai melirik singkong gajah," kata Ristono.
Sementara itu, Jokowi menilai singkong gajah memiliki makna tersendiri baginya. "Singkong ini adalah salah satu makanan favorit saya semasa kecil," kata Jokowi.
Oleh sebab itu, Jokowi berjanji, jika dipercaya menjadi presiden dalam pilpres nanti, akan segera mematenkan singkong gajah sebagai umbi asli Indonesia temuan anak bangsa. (ren)
(tvOne/Iqbal Abdullah)
© VIVA.co.id
http://politik.news.viva.co.id/news/read/506940-singkong-gajah-dijanjikan-akan-dipatenkan

Singkong Sebagai Pangan Andalan


Singkong Sebagai Pangan Andalan

Di NKRI, singkong biasanya hanya digunakan sebagai pakan ternak dan atau sebagai bahan pangan tradisional nomor tiga setelah beras dan jagung. Memang, di beberapa daerah, singkong sudah digunakan sebagai bahan baku industri (35%) yang tingkat kebutuhannya mulai bersaing dengan kebutuhan konsumsi langsung sebagai bahan pangan (62%).   Sejauh ini pemanfaatan singkong masih sebatas untuk pangan yang dapat langsung dikonsumsi seperti direbus, digoreng, dikukus, dan lain-lain. Apabila kita perhatikan bahwa harga tepung terigu semakin mahal maka Industri Mocaf semestinya disegerakan berkembang di Indonesia. Hal ini harus disadari adanya permintaan  kebutuhan terigu semakin meningkat seiring dengan perubahan pola konsumsi makanan masyarakat yang mengarah ke Western Foods yang dianggap sebagai Modern Style.  Demikian juga dengan semakin menjamurnya berbagai jenis industri dan usaha pengolahan makanan yang berbahan dasar terigu harus segera diimbangi dengan Mocaf berbahan baku Singkong Gajah.



Beberapa upaya yang telah dilakukan Pemerintah untuk mendorong industrialisasi tepung singkong walaupun belum menyeluruh di wilayah NKRI ini.  Di berbagai tempat telah dilakukan pemberian stimulus pengembangan tepung-tepungan pada usaha mikro, kecil, dan menengah  (UMKM) yang bergerak di bidang pangan.  Telah dilakukan pula tindak sosialisasi, advokasi dan pembinaan peningkatan pemanfaatan tepung-tepungan, dengaan cara pemberian peralatan pengolahan kepada UMKM dalam upaya meningkatkan produktivitas dan mutu tepung atau hasil usaha yang dihasilkan. Hal ini juga  mendorong keterlibatan perguruan tinggi.  Walaupun demikian dampak positifnya belum tampak nyata.  Oleh karena itu masih diperlukan usaha keras untuk mengupayakan pencitraan agar tepung singkong menjadi Tepung Pangan Nasional.  Untuk itu, diharapkan adanya sinkronisasi dan sinergitas berbagai pihak yaitu antara pemerintah, petani, industri dan pelaku bisnis, pakar, peneliti, asosiasi, akademisi dan pihak-pihak terkait lainnya.  Dari kajian penulis, terlihat bahwa industri pangan berbasis singkong terkendala ketidakpastian yang sering muncul yang berupa fluktuasi harga singkong yang tidak stabil yang dipengaruhi oleh musim panen yang sering tak menentu.  Kiranya dengan pertanian singkong yang beerteknologi dan bermodalkan keuangan yang mencukupi kendala-kendala tersebut akan dapat dikurangi. (prof.ristono)

CARA BUDIDAYA SINGKONG GAJAH


CARA BUDIDAYA SINGKONG GAJAH DR 
SINGKONG SUPER BESAR ENAK RASANYA


Singkong alias ketela pohon mungkin sampai saat ini masih identik dengan image kemiskinan. Yaa karena umumnya singkong menjadi tanaman andalan di daerah yang tandus dan kurang air dan menjadi makanan pokok didaerah tandus tadi. Namun kini singkong telah menjadi tanaman yang cukup menguntungkan dengan adanya pemuliaan tanaman singkong oleh para ahli pertanian di Indonesia. Kalau jaman dulu kita kenal ketela mukibat yang umbinya lumayan gede, kini telah muncul singkong super yang diberi nama Singkong Gajah. 

Singkong Gajah umur 12 Bulan - Samarinda

Puji Tuhan, seorang peneliti dari Samarinda bernama Prof. Dr Ristono MS, Mantan Dosen Di Universitas Mulawarman, telah berhasil menemukan Varietas Singkong Super tadi. Singkong Temuannya umbinya berukuran Super Besar Dibanding Singkong Pada Umumnya. Lihat saja sendiri Umbinya Bisa Mencapai 50 Kg/pohon. Kalau singkong Biasa berat umbi Maksimal Seberat 3 Kg/pohon, sangat jauh berbeda bukan. Makanya singkong ini kemudian dikenal dengan nama singkong gajah. 
Disamping super besar, Singkong Gajah Juga lebih enak rasanya dan lebih Tahan Terhadap Serangan Hama. Singkong Gajah rasanya lebih gurih dan tekstur umbi lebih lunak jika dibandingkan dengan singkong biasa. Cuma kalau mau digoreng utuh kayaknya wajan dirumah anda tidak muat deh...:). 
Banyaknya permintaan sigkong baik untuk makanan, makanan ternak serta yang baru-baru ini ada bietanol, berkebun singkong gajah ini layak untuk diusahakan secara profitable. Apalagi bibit Singkong gajah kini sudah banyak menyebar di Indonesia tidak hanya di kalimantan timur saja. 
Untuk budidaya singkong gajah tidaklah sulit seperti tanam singkong biasa saja. Berikut ini cara budidaya singkong gajah.

A. SYARAT PERTUMBUHAN 
1. IKLIM
  1. Untuk dapat berproduksi optimal, ubikayu memerlukan curah hujan 150- 200 mmpada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100- 150 mm pada fase menjelang dan saat panen (Wargiono, dkk., 2006).
  2. Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela pohon/singkong sekitar 10 derajat C. Bila suhunya dibawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
  3. Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon/singkong antara 60 – 65%.
  4. Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon / singkong sekitar 10 jam / hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.
contoh tanah yang telah siap tanam singkong gajah
2. MEDIA TANAM
  1. Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon / singkong adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah.
  2. Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon / singkong adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
  3. Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5 – 8,0 dengan pH ideal 5,8. pada umumnya tanah di Indonesia ber pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0- 5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.

B. PEDOMAN BUDIDAYA 
a) BIBIT
  1. Gunakan varietas unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi, disukaikonsumen, dan sesuai untuk daerah penanaman. Sebaiknya varietas unggul yang dibudidayakan memiliki sifat toleran kekeringan, toleran lahan pH rendah dan/atau tinggi, toleran keracunan Al, dan efektif memanfaatkan hara P yang terikat oleh Al dan Ca.
  2. Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
  3. Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam
  4. Batang telah berkayu dan berdiameter ± 2,5 cm lurus.
  5. Belum tumbuh tunas-tunas baru 
Bibit yang telah siap tanam

b) PENGOLAHAN MEDIA TANAM
a. Persiapan, kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah :

Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan atau cairan pH tester.
Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.
Penetapan jadwal / waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanaman lainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman sejenis.
Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga saat panen dan pasar.

b. Pembukaan dan Pembersihan Lahan
Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar tanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada.

c. Pembentukan Bedengan (Guludan)
Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti permbersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.
Contoh guludan tanah berbukit
d. Pengapuran (Bila diperlukan)
Untuk menaikan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat asam / tanah gambut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan adalah 1 – 2,5 ton / hektar. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

C. TEKNIK PENANAMAN
  1. Penentuan Pola Tanam Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang digunakan pada pola monokultur adalah 80 x 120 cm.
  2. Cara Penanaman Sebelum bibit ditanam disarankan agar bibit direndam terlebih dahulu dengan pupuk hayati MiG-6 Plus yang telah dicampur dengan air selama 3-4 jam. Setelah itu baru dilakukan penanaman dilahan hal ini sangat bagus untuk pertumbuhan dari bibit.
  3. Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon, kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

D. PEMELIHARAAN TANAMAN
Penyulaman

Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas. Penyiangan Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/tanaman liar./ pengganggu (gulma) yang hidup disekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 kali penyiangan. Periode kritis atau periode tanaman harus bebas gangguan gulma adalah antara 5-10 minggu setelah tanam. Bila pengendalian gulma tidak dilakukan selama periode kritis tersebut, produktivitas dapat turun sampai 75% dibandingkan kondisi bebas gulma. Pembubunan Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah disekitar tanaman dan setelah dibuat seperti gundukan. Waktu pembubunan bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan /ditutup dengan tanah agar akan tidak kelihatan. Perempelan / Pemangkasan Pada tanaman ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3, hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi dimusim tanam mendatang. 

E. PEMUPUKAN

Pemupukan Secara Konvensional / Kebiasaan Petani Pemupukan dilakukan dengan system pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea : 135 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 135 kg. pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K = 1/3 : 1: 1/3 atau Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg (sebagai pupuk dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K = 2/3:0:2/3 atau Urea : 85 kg dan KCL : 85 kg. Pemupukan dengan Sistem Teknologi MiG-6 Plus Sistem pemupukan menggunakan teknologi MiG-6 Plus , dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia/anorganik sampai dengan 50%, adapun cara pemupukannya adalah sebagai berikut : Disarankan saat pengolahan lahan diberikan pupuk kandang pada setiap lubang yang akan ditanami bibit. Kebutuhan 5ton/ha. 3 hari sebelum tanam diberikan 2 liter MiG-6 Plus per hektar dengan campuran setiap 1 liter MiG-6 Plus dicampur/dilarutkan dengan air max 200 liter atau 1 tutup botol (10 ml) dicampur/dilarutkan dengan air sebanyak 2 liter (jumlah air tidak harus 200 liter boleh kurang asal cukup untuk 1 hektar) disemprotkan pada lahan secara merata disarankan disemprotkan pada pupuk kandang/kompos agar fungsi dari pupuk kandang/kompos lebih maksimal. Setelah 3 hari bibit / stek siap ditanam. 5 hari setelah tanam berikan campuran pupuk NPK dengan dosis Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg pada lahan 1 hektar, 1 pohon diberikan campuran sebanyak ± 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm. Pemberian MiG-6 Plus selanjutnya pada saat tanaman singkong berumur 2 bulan :2 liter, umur 4 bulan : 2 liter, umur 6 bulan : 2 liter dan 8 bulan : 2 liter. Pemberian pupuk anorganik selanjutnya pada umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk N:P:K dengan dosis Urea : 85 kg, dan KCL : 85 kg. Asumsi bila 1 hektar lahan ditanam 7.500 pohon berarti 1 pohon diberikan sebanyak ± 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm.
anak Prof. Ristono panen Singkong Gajah

F. PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN

Kondisi lahan ketela pohon dari awal tanam sampai umur ± 4-5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab tapi tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. System yang baik digunakan adalah system genangan sehingga air dapat sampai kedaerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan system genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan. 

G. WAKTU PENYEMPROTAN PESTISIDA / INSEKTISIDA

Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama/penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati.

Organic Mixed Farming Integrated Industry


Organic Mixed Farming Integrated Industry

Organic Mixed Farming Integrated Industry adalah suatu konsep pengelolaan pertanian, perkebunan berbasis pada konsep pelestarian soil sehingga tidak terjadi degradasi soil dan difisit hara dan isi melalui konsep manajemen dan teknologi recycle limbah pertanian untuk pakan ternak dan limbah ternak untuk rehabilitasi soil melalui pembuatan pupuk organic yang dibuat dart limbah pertanian/perkebunan dipadukan dengan kotoran ternak melalui konsep teknologi Pengolahan Tanah dalam dan Soil Improvement yang berarti konsep tersebut adalah konsep teknologi pembangunan pertanian dan perkebunan yang berwawasan lingkungan, berkesinambungan. berkelanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat (community development).

Teknologi Organic Mixed Farming Integrated Industry adalah suatu konsep teknologi yang efesien, efektif, produktif yang akan mampu meningkatkan prduktivitas lahan dan kualitas komoditas yang dihasilkan dengan basis organik yang akan meningkatkan nilai ekonomi dan nilai tambah (added .Value) tinggi serta pelestarian soil serta multi efek player.

Sejarah SINGKONG GAJAH RISTONO


Pada tahun 1992, Dr. Ristono, MS, yang bertempat tinggal di Kota Samarinda, Provinsi Kalimatan Timur, melakukan penelitian singkong. Penelitian terebut diawali dengan penanaman singkong karet yang tumbuh secara liar di Kalimantan Timur yang umbinya sulit diketemukan hanya panjang ( mrentel-mrentel)  tidak enak dimakan tumbuhnya segar dan menaun kadang bisa membesar dan meninggi bisa umur sampai 30 tahun, disekitarnya dengan jarak lebih kurang 2 m ditanam singkong yang enak rasanya yang berasal dari berbagai tanaman dari lokasi transmigrasi Kalimantan Timur terutama dari Kabupaten Kutai Kartanegara yang ubinya kecil s/d sedang dengan diameter 3-4 cm, panjang umbi 30 cm (rasanya enak waktu peneliti masih muda makan singkong di jawa rasanya enak dan pulen, maka rasa yang enak tadi disebut “Gatot Kaca”). 

Penanaman dilakukan dilokasi berdekatan dengan rumah tinggal peneliti yang berlokasi di  Jalan  Pramuka  Komp. Gunung Kelua, Kec. Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Provinsi Kalimatan Timur dengan luas lahan 400 m2.
Varietas Singkong Gajah telah didaftarkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian. Sebagai Varietas Hasil Pemulian, Nomor: 183/PVHP/2013.
Tanggal 18 Nopember 2013.

Minggu, 16 Agustus 2015

Sejarah Singkong Gajah


Sejarah Singkong Gajah DR


Prestasi baru di dunia tanaman pangan kembali terjadi. Setelah ditemukannya varietas benih padi yang mampu tandingi padi hibrida dari segi produktivitas dengan markas riset di Lampung, kini hadir varietas singkong berukuran jumbo yang ditemukan seorang profesor asal Samarinda, Kalimantan Timur.

Adalah Profesor Dr Ristono MS, mantan dosen di Universitas Mulawarman, yang sukses menemukan varietas singkong jumbo tersebut. Julukan “jumbo” pada singkong temuannya itu tak berlebihan mengingat ukurannya yang super besar dibanding singkong pada umumnya. Tengok saja berat umbinya yang bisa mencapai 60 kg per pohon padahal singkong biasa per pohon hanya berumbi maksimal seberat 3 kg.

Prof. DR. Ristono, MS 

Penelitian singkong yang juga terkenal dengan sebutan singkong gajah ini memakan waktu relatif lama. Profesor Ristono menghabiskan waktu sekitar 10 tahun, dari tahun 1992 sampai 2002, dengan melakukan serangkaian percobaan seperti pencangkokan singkong lokal dengan singkong karet. Setelah sukses bereksperimen, singkong berukuran jumbo dengan varietas yang layak untuk dikonsumsi pun ditemukannya.

Menurut profesor Ristono yang juga berprofesi sebagai Guru Besar STT Migas Balikpapan, cara tanam singkong yang varietasnya hanya bisa dijumpai di Kalimantan Timur ini tergolong mudah. Dengan sistem stek, yakni memotong batang singkong lalu menanamnya ke tanah yang gembur, pun bisa tumbuh. Hasil dari cocok tanam seperti itu menghasilkan panen berbeda kualitas dengan yang hasil tanam melalui proses okulasi atau pencangkokkan.

Bertekad membudidayakan singkong gajah ini, prof Ristono menggandeng LSM Borneo Environment Community (BEC), menggarap lahan seluas 2 hektare untuk budi daya singkong gajah di daerah Barambai, Sempaja Utara. Upaya untuk terus membudi daya singkong jumbo itu juga dilakukannya di daerah lain yang meliputi Desa Bukit Parianan, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Desa Lamaru Balikpapan, Desa Sepaku Penajam Paser Utara, Berau, Malinau, Paser serta Universitas Borneo Tarakan.

Profesor Ristono mengungkapkan, modal yang dibutuhkan untuk membudi daya singkong gajah ini relatif besar. Lulusan Universitas Tokyo, Jepang, itu menuturkan, diperlukan dana antara Rp10 juta sampai Rp20 juta per hektarenya guna pembukaan dan penyiapan lahan, pembelian bibit, pupuk, pemeliharaan dan biaya lain pascapanen. Namun modal yang besar itu sepadan dengan panen yang diperoleh. Profesor Ristono menjelaskan, saat singkong gajah berusia 4-9 bulan, beratnya bekisar 15-46 kg. Dibandingkan dengan singkong biasa dengan masa tanam yang sama, yakni 2-5 kg, singkong gajah tentu lebih unggul.

Selain unggul dalam bidang berat, singkong jumbo juga mempunyai keunggulan di bidang cita rasa dan daya tahan terhadap serangan hama. Singkong gajah ini dinilai mengandung cita rasa yang lebih gurih dan teksturnya pun juga lebih lunak dibanding singkong biasa. Lalu, apakah singkong “raksasa” ini mempunyai nilai ekonomis sebagai salah satu produk komoditas?

Sebagai penghitungan kasar, bila singkong gajah ditanam dengan jarak 1 meter pada luas lahan 1 hektare, berat rata-rata umbi untuk 1 cabutan batang adalah 20 kg. Bila ditanam dengan jarak 1,5-2 meter, berat umbi bisa mencapai 35 hingga 40 kg per batangnya. Dengan nilai jual di pasaran sekitar Rp2.000-Rp4.000 per kg, maka pendapatan yang diperoleh antara Rp100 juta hingga Rp200 juta per hektare.

Hitung-hitungan terburuknya, dengan harga Rp1.000 per kg pada saat panen raya maka hasil yang didapat adalah 20 kg x 10 ribu batang x Rp1.000 = Rp200 juta. Sungguh sangat menjanjikan, karena dengan modal Rp 20 juta, seorang petani singkong gajah dapat memperoleh pendapatan Rp200 juta dalam waktu 9 bulan. Itu baru dari hasil penjualan umbinya saja, belum dari produk-produk turunannya, atau pengolahan limbahnya. Maka tidak menutup kemungkinan, bakal lahir miliarder-miliarder baru berkat singkong temuan profesor Ristono ini.  

(sumber : http://ciputraentrepreneurship.com)

SINGKONG GAJAH BERJUANG

SINGKONG GAJAH BERJUANG

Oleh:  Prof. Dr. Ristono, M.S

Singkong Gajah penemuan Prof.  Dr. Ristono, M.S mulai disosialisasikan tahun 2008 merupakan hasil penelitiannya yang dimulai tahun 1992.  Sekarang yaitu Agustus 2013 penyebaran benih telah mencapai hampir seluruh wilayah Indonesia.  Dan tidak menutup kemungkinan bibit telah ditanam di mancanegara. 

Apa yang diperjuangkannya?

Singkong Gajah dari Provinsi Kalimatan Timur telah dicoba ditanam di berbagai jenis tanah dari tanah marginal yang tandus hingga yang subur dan dari tanah terbuka hingga tanah yang ternaungi. Tempat penanaman bukan hanya di wilayah Pulau Kalimantan  namun juga telah dicoba di Pulau Sumatera, Jawa, Pulau Sulawesi, Pulau Halmahera, dan Pulau Papua. Ketinggian lahan dicoba hingga 1.500 meter di atas permukaan air laut untuk tanaman ini masih berproduksi dengan baik.  Sedangkan bibit yang ditanam yang murni dari penemunya dengan diameter 0,5 cm hingga 3,5 cm dan panjang benih dari 5 cm hingga 50 cm. Hasil penanaman tersebut membuat penulis semakin bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berlandaskan Iman dan Taqwa penulis yakin  tanaman ini menunjukkan kualitas  dan kuantitas yang layak menjadi obyek untuk diperjuangkan dalam lingkup kemanusiaan khususnya perbaikan ekonomi kerakyatan dan lingkungan hidup.

Tanaman ini hadir menjadi sumber usaha tani monokultur atau tumpangsari karena tanaman ini layak dibudidayakan oleh petani bersamaan dengan pengembangan tanaman lainnya. Bahkan pengembangan secara terpadu dengan bidang peternakan dan perikanan. Daun dan umbinya bermanfaat sebagai sumber pangan dan gizi bagi manusia,  ternak, dan ikan.  Ia berpotensi untuk ketahanan pangan dan biofuel.  Produk hilir untuk makanan, pakan dan pupuk membuka lapangan industri yang multidimensi sehingga ia juga berpeluang untuk pengembanan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 

Sejak Januari 2013, walau dalam keadaan sakit stroke, penulis melanjutkan penelitiannya tentang kayu dari Singkong Gajah ini.  Hasilnya lebih lanjut diserahkan kepada rekannya yang Guru Besar di bidang perkayuan.  Untuk perbaikan lingkungan hidup penulis menggandeng Guru Besar dari Universitas Mulawarman.

Nilai ekonomi dan ekologi tanaman ini secara menyeluruh berasal dari daun, batang dan akarnya menopang pendapatan perorangan, keluarga, dan negara. Manfaat bagi lingkungan hidup cukup besar karena mampu ikut serta mengendalikan kadar CO2 di udara karena tanaman ini dalam masa pertumbuhan memiliki riap yang tinggi pada hijauannya. Keteraturan penanamannya menghasilkan keindahan tersendiri menumbuhkan estetika yang menyehatkan rohani bagi yang menikmatinya. Kemampuan tumbuh di lahan tandus hingga pada lahan yang subur di dataran rendah hingga dataran tinggi, tanaman ini tahan terhadap kekeringan menjadikan dirinya mampu berperan sebagai tumbuhan penyangga kelestarian alam.  Tidak diragukan lagi bahwa tanaman yang ramah lingkungan ini mampu menjadi tanaman basis dan tanaman pionir pada lahan-lahan kritis atau lahan marjinal termasuk untuk reklamasi lahan pada hutan-hutan yang telah rusak maupun untuk reklamasi lahan bekas tambang batubara.  Bahkan tanaman ini digunakan oleh penemunya sebagai indikator dari kesuburan tanah.

Problema peningkatan jumlah penduduk dan ketahanan pangan di dunia ini akan dapat diatasi dengan Singkong Gajah yang dikelola dengan teknologi dari tingkat tradisional hingga moderen. Pola makan penduduk dunia harus diarahkan kepada perubahan yang dimulai pola konsumsi makanan campuran khususnya menghindari ketergantungan pada jenis bahan makanan seperti beras, gandum, dan jagung yang dapat digantikan atau disubstitusi dengan bahan baku produk tanaman ini. Hal ini berarti bahwa pengembangan industrialisasi berbahan baku singkong dikembangkan lebih serius dimulai untuk ketahanan pangan penduduk manusia. Oleh karena itu tanaman ini menjadi komoditas yang berpeluang dan prospektif untuk dikembangkan dengan pendekatan agroindustri dan agribisnis.  Singkong Gajah mengadung beberapa Vitamin penting untuk kesehatan lebih-lebih zat karsinogeen untuk melawan kanker.

Sebagai bahan baku bahan bakar, Singkong Gajah di masa mendatang akan menjadi pengganti atau pendamping Minyak dan Gas Bumi (MIGAS). Hal ini memungkinkan memberikan solusi bagi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selalu menjadi masalah manusia bumi sehari-hari yang tidak berkesudahan.  Pengembangan BBM alternatif ini dapat menambah  pengetahuan dan wawasan khususnya di bidang teknologi dan industri.  Perjuangan penulis menuju realisasi terwujudnya regulasi dan perundangan mengenai Bioetanol berpihak pada ”rakyat kecil” di mana pelaku bisnis ini bukan dikuasai oleh ”konglomerasi”.

Sehubungan dengan masalah kemanusiaan di mana bencana alam dan bahkan bencana kelaparan maupun kelangkaan bahan bakar selalu terjadi dan semakin menghantui semua bangsa di dunia ini, maka harapan penulis agar Singkong Gajah sebagai salah satu solusinya.

Permasalahnannya, kapan Singkong Gajah sampai dikenal dunia. Bagaimana manusia bisa memanfaatkan tanaman yang unik ini.  Informasi penyebaran dan dapaknya cukup memuaskan, karena telah mendorong ilmuwan muda ikut serta meneliti dan mengembangkannya.  Terbukti batang kayunya diteliti karena bernilai ekonomi kreatif.

Untuk sementara kekhasan Singkong Gajah sebagai Sweet Cassava telah menunjukkan produktivitas yang tinggi  dan kualitasnya dengan rasanya yang enak. Penelitian Singkong Gajah terus dilanjutkan dengan mengundang para ahli di bidangnya.   Penulis selalu berdoa agar penghargaan di bidang penelitian dan penemuan di Indonesia semakin dihargai.  Sedangkan produktivitas umbinya mencapai 100 Ton per Ha sekali panen per tahun, umur panen 1 tahun.

Terpikirkan untuk ”menggantikan keju dengan singkong” seperti adanya lagu ”Anak Singkong” yang ditenarkan oleh penyanyi almarhum Ari Wibowo. Perjuangan Singkong Gajah  menyadur syair dari lagu karya Koes Plus yang berjudul ”Kolam Susu” di mana ”tongkat kayu jadi tanaman”, wujud nyatanya adalah Ubi Kayu itu. Dengan demikian, perjuangan Singkong Gajah untuk membantu percepatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Adil dan Makmur penuh dengan ”susu” mendekati kenyataanya.

Melalui tulisan ini diharapkan pembaca lebih mengenal dan memahami mengenai Singkong Gajah, sehingga membantu pengembangan dan peningkatan teknologi pangan serta teknologi kayunya untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.  Dengan semangat gotong-royong yang merupakan makna hakiki dari  Pancasila dasar dari negara kita.

Semoga tulisan ini dapat memberikan sumbangsih bagi perjuangan  penyelamatan manusia di Bumi yang satu ini, khususnya dari kelangkaan pangan, kayu dan bahan bakar.  Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik ke arah perbaikan senantiasa kami terima dengan tangan terbuka dan ucapan terima kasih.


   Samarinda 20 Agustus 2013


Prof. Dr. Ristono, M.S



Senin, 02 Maret 2015

CASSAVA - "SINGKONG" - The Magic Plant

video

Video tentang kegunaan Singkong sebagai bahan baku berbagai macam kebutuhan pokok baik untuk ketahanan pangan maupun untuk industri besar.
Semua unsur yang terdapat pada tanaman singkong dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan segala macam.
Sehingga tanaman ini dinamakan "The Magic Plant".


Sabtu, 21 Februari 2015

Singkong Obat Ajaib untuk Kanker

Singkong, atau ketela pohon, ubi kayu (Manihot utilissima), adalah perdu tahunan tropika dan subtropika dari suku Euphorbiaceae, umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran.

Umbi ketela pohon ini merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein, namun sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong, karena mengandung asam amino metioinina.
Berdasarkan pengalamannya sendiri, Dr Cynthia Jayasuriya, telah membuktikan bahwa singkong ternyata mengandung vitamin B17 yang sangat efektif untuk memerangi penyakit kanker.
Secara sederhana, cara kerja singkong sbb :

Nama ilmiah vitamin B17 adalah Amygdaline. 
Sel kanker adalah sel yang belum matang dan memiliki enzym yang berbeda dengan enzym normal. 
Ketika vitamin B17 digabungkan dengan enzym sel normal, B17 akan terurai menjadi 3 jenis gula. Namun ketika tergabung dengan enzym sel kanker, B17 terurai menjadi 1 gula, 1 benzaldehida dan 1 asam hidrosianik. Asam hidrosianik inilah yang membunuh sel kanker secara lokal.
Pengalaman Dr Cynthia, menderita kanker kandung kemih stadium 2, setelah tujuh tahun mengidap kanker di urethra. Ginjal, urethra dan sebagian dari kandung kemih sudah diangkat, setelah itu menjalani radiasi dibagian perut. Pada tahun ketujuh, ditemukan darah dalam urine yang ternyata disebabkan oleh berkembangnya lagi sel kanker di kandung kemih.
Berdasarkan pengalaman seorang Dokter Misionair Inggris di Afganistan, menemukan kandungan B17 dalam biji apricot, yang di Amerika dan Australia dijadikan pengobatan kanker tanpa kemoterapi. 
Saat sedang dirawat karena kanker, Dr Cynthia menemukan bahwa B17 juga dikandung dalam makanan sehari2 yaitu singkong.
Setelah dikonsumsi selama 1 bulan, melakukan pemerikasaan kandung kemih dan ternyata kandung kemihnya benar2 bersih dan normal. Selama makan singkong, beliau merasa sangat fit, dan orang lainpun melihat nya sangat sehat.
Setelah itu setiap tiga bulan diperiksa dan hasilnya tetap bersih. Sejak itu beliau hanya makan singkong dan tidak menjalani pengobatan lainnya.

Singkong, murah, mudah didapat, mudah dimasak dan sangat lezat dengan cara sbb :
1. Pilih singkong yang segar, yang tidak ada noda biru.
2. Rebus dan jangan tutup panci selama memasak, agar membantu menguapkan kelebihan asam midrosianik.
3. Jangan mengkonsumsi makanan yang mengandung jahe/ginger, seperti biscuit jahe, ginger beer, ginger ale sedikitnya 8 jam setelah mengkonsumsi singkong.
Semoga bermanfaat!

Senin, 26 Januari 2015

Budidaya Singkong


(Dikutip dari "Cara Jitu Jadi Raja Singkong" - Trubus)
Budidaya Singkong

Singkong yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran.

Syarat Tumbuh Tanaman Singkong

Tanaman Singkong tumbuh optimal pada ketinggian antara 10-700m dpl. Tanah yang sesuai adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak liat juga tidak poros. Selain itu kaya akan unsure hara. Jenis tanah yang sesuai adalah tanah alluvial, latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol. Sementara itu pH yang dibutuhkan antara 4,5-8, dan untuk pH idealnya adalah 5,8.

Curah hujan yang yang diperlukan antara 1.500 – 2500 mm/tahun. Kelembaban udara optimal untuuk tanaman antara 60%-65%. Suhu udara minimal 10’C. Kebutuhan akan sinar matahari sekitar 10 jam tiap hari. Hidup tanpa naungan.

Persiapan Bibit Singkong

Ubu kayu paling mudah untuk diperbanyak. Cara yang lazim digunakan adalah perbanyakan dengan cara setek batang dari batang panenan sebelumnya. Setek yang baik diambil dari batang bagian tengah tanaman agar matanya tidak terlalu tua maupun tidak terlalu tua. Batang yang baik berdiameter 2-3 cm. Pemotongan batang stek dapat dilakukan dengan menggunakan pisau atau sabit yang tajam dan steril. Jangan memakai gergaji untuk memotongnya karena gesekan gergaji akan menimbulkan panas yang akan merusak bagian pangkal dari batang. Potongan batang untuk setek yang baik adala 3-4 ruas mata atau 15-20 cm. Bagian bawah dari batang stek dipotong miring dengan maksud untuk menambah dan memperluas daerah perakaran.


Persiapan Lahan Budidaya Singkong

Untuk menanam ubi kayu ini tidak begitu sulit. Untuk daerah yang mempunyai curah hujan cukup tinggi ataupun terlalu banyak air, penanaman dilakukan dalam sebuah guludan atau bedeng. Selain itu, dengan menggunakan guludan memudahkan kita dalam pemanenan.

Untuk daerah yang mempunyai curah hujan sedikit atau kering, penanaman tidak perlu dilakukan dengan membuat guludan. Penanaman dapat dilakukan pada tanah yang rata. Tanah di cangkul dan di remahkan kemudian diratakan dan pengguludan dapat dilakukan setelah tanaman berumur 2-3 bulan setelah tanam. Pada saat perataan dapat pula disebarkan pupuk kandang atau kompos untuk penambahan unsure hara. Pengolahan tanah yang sempurna diikuti dengan pembuatan guludan yang dibuat searah dengan kontur tanah sebagai upaya pengendalian erosi. Selain itu dengan pembuatan guludan juga dapat memaksimalkan hasil dibandingkan dengan system tanpa olah tanah setelah tanam.

Penanaman Ubi Kayu

Waktu penanaman yang baik dilakukan pada awal musim kering atau kemarau dengan maksud untuk hasil penanaman dapat dipanen pada awal musim hujan.

Batang yang telah dipotong tadi kemudian ditanamkan dalam tanah. Jangan sampai terbalik, tanda yang dapat kita lihat dari arah mata dari tiap ruas batang yang disetek. Arah mata menuju ke atas dibawahnya bekas tangkai daun.

Batang setek di tanam agak miring dengan kedalaman 8-12 cm. Pada lahan tanaman yang subur dapat digunakan populasi tanaman 10.000 batang/ha dan untuk lahan yang kurang begitu subur dapat digunakan populasi 14.500 batang/ha. Jarak tanam dengan system monokultur adalah 100 x 50 cm. Untuk system tumpang sari, penanaman dapat menyesuaikan dengan lahan dan tanaman lainnya.



Bahkan di pegunungan, SG DR tetap tumbuh dengan baik
Pemeliharaan Tanaman Singkong

Tanaman ini termasuk tanaman yang dapat mandiri sehingga, tanaman ini menjadi mudah dalam pemeliharaanya.Penyulaman dapat kita lakukan 2-3 minggu setelah tanam. Bibit penyulaman seharusnya sudah disediakan ketika pengadaan bibit tanaman yang dapat pula ditanam pada pinggir lahan pertanaman. Hal ini untuk membuat tanaman ini seragam dalam pemanennya.Agar tanaman dapat tumbuh baik dan optimal dilakukan dengan pengurangan mata tunas saat awal tunas itu muncul atau 1-1,5 bulan setelah tanam. Sisakan maksimal 2 tunas yang paling baik dan sehat dalam satu tanaman.Penyiangan dilakukan pada umur 2-3 bulan setelah tanam dan menjelang panen. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pemanenan serta mencegah kehilangan hasil panen selain mengendalikan populasi gulma yang tumbuh. Selain itu saat penyiangan dilakukan dengan membumbuni batang tanaman sehingga dapat menjadi guludan.

Hama dan penyakit Tanaman Singkong

Hama yang sering menyerang tanaman ini biasanya adalah hama tungau merah (Tetranus urticae) dan serangan bakteri layu (Xanthomonas campestis) serta penyakit Hawar Daun (Cassava Bacterial Bligh / CBB)
.

Panen Singkong

Kriteria ubi kayu yang optimal adalah pada saaat kadar pati optimal. Yakni ketika tanaman itu berumur 6-9 bulan apabila untuk konsumsi. Untuk pembuatan produk seperti tepung sebaiknya ubi kayu dipanen pada umur lebih dari 10 bulan, dan itu juga tergantung akan varietas yang ditanam. Ciri saat panen adalah warna daun menguning dan banya yang rontok.

Cara pemanenan dilakukan dengan membuat atau memangkas batang ubi kayu terlebih dahulu dengan tetap meninggalkan batang sekitar 15 cm untuk mempermudah pencabutan. Batang dicabut dengan tangan atau alat pengungkit dari batang kayu atau linggis. Hindari pemakaian cangkul, karena permukaannya yang lebar yang tanpa disadari dapat memotong ubi.

Umbi yang baik setelah panen hanya berumu 1-3 hari tergantung penyimpanan. Setelah itu umbi sudah melakukan banyak perombakan kalori. Bahkan, kadang umbi berwarna kebiruan apabila kandungan HCNnya tinggi. Dan munculnya warna ini sangat mempengaruhi kualitas tepung.





Singkong Gajah Indonesia


Singkong Gajah DR - Indonesia


Prof. DR. Ristono bersama PT Inhutani II dan PT TSA, bekerjasama dalam
pengembangan budidaya Singkong Gajah DR di Pulau Laut - Kalsel

SEBAGAI bentuk perhatian terhadap perekonomian para petani di Kaltim, Borneo Environmental Community (BEC) membudidayakan singkong gajah. Tanaman singkong ini memiliki ukuran lebih besar dibandingkan singkong pada umumnya, dengan diameter batang 8 cm. Untuk masa tanam 10 bulan, satu pokok bisa menghasilkan singkong gajah 40 kg.

Prof Dr Ristono MS, peneliti dari Universitas Mulawarman (Unmul) menemukan tanaman ini pada 1992. “Sebetulnya tanaman ini sudah lama tumbuh di Kaltim. Saya menemukannya di beberapa tempat, seperti Manggar (Balikpapan) dan Marangkayu (Kukar). Tapi varietas singkong gajah ini hanya dijumpai di wilayah Kaltim,” tutur Ristono.

Cara tanam singkong ini sangat mudah, dengan sistem stek bisa tumbuh. Batang singkong dipotong lalu ditancapkan dalam tanah yang gembur. Hasilnya pun berbeda dengan singkong biasa yang ditanam menggunakan proses okulasi atau dicangkok. “Dalam jangka sembilan bulan, kalau singkong biasa hasil panennya 2-3 kg dalam satu pokok, maka dengan singkong gajah bisa mencapai 10-20 kg,” jelasnya.

Bersama BEC, Ristono ingin membudidayakan singkong gajah ini di Samarinda. Pilot project- nya di Barambai, Sempaja Utara dengan lahan seluas 2 hektare (ha). Minggu depan bakal dimulai penanaman bibit. Keunggulan tanaman ini bukan hanya perawatannya yang mudah, namun juga kebal terhadap hama.

“Rasanya juga lebih gurih, seperti ada menteganya. Teksturnya juga sangat lunak tidak seperti singkong biasa yang keras,” tambahnya. Singkong ini tak hanya bisa diolah menjadi tepung tapioka tapi juga dapat menghasilkan produk bio-etanol sebagai bahan bakar kendaraan. Untuk menghasilkan bahan bakar, singkong ini mesti diolah melalui proses distilasi (penyulingan).

Hasil panen singkong gajah bisa mencapai 100 ton/ha, sedangkan singkong biasa 40 ton/ha. BEC Kaltim mendatangkan satu truk bibit singkong gajah ke Samarinda, Selasa (22/7). Bibit ini didatangkan dari tempat pembibitan utama di perbatasan Balikpapan-Kukar sebanyak 30.000 bibit. Bibit ini akan ditanam di kawasan Barambai, Sempaja. Jadi total bibit yang sudah diserahkan kepada BEC Samarinda 50.000 bibit.
Lewat budidaya singkong gajah ini ke depan dapat tercipta lapangan usaha, seperti mendirikan UKM, pabrik tapioka. Bahkan, singkong gajah bisa menjadi komoditi ekspor setelah diolah menjadi bio-etanol.

“Saat panen raya Desember nanti, kami akan menggelar sosialisasi singkong gajah ini dalam bentuk getuk lindri sepanjang 2008 meter. Rencananya, aksi ini akan dicatat dalam museum rekor Indonesia (MURI). Sampelnya diambil dari daerah penghasil tanaman tersebut di Kaltim,” ucap Ristono.

Membuat Bioetanol dari singkong


Membuat Bioetanol dari singkong


Tujuh tahun terakhir Zaenai Arifin rutin mengolah 1,5 ton singkong segar per hari menjadi keripik. Hasilnya 600kg keripik ia jual ke beberapa daerah di Pulau Jawa, Bali, dan Lampung. Selain keripik, singkong juga sering diolah menjadi tapai. Begitulah secara turun-temurun anggota famili Euphorbiaceae itu dimanfaatkan. Namun, setahun terakhir singkong juga mengisi tangki-tangki motor dan mobil. Kendaraan itu melaju dengan bahan bakar singkong

Singkong diolah menjadi bioetanol, pengganti premium. Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja, dari Tcknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong salah satu sumber pati. Pati senyawa karbohidrat kompleks. Sebelum difermentasi, pati diubah menjadi glukosa, karbohidrat yang lebih sederhana. Untuk mengurai pati, perlu bantuan cendawan Aspergillus sp. Cendawan itu menghasilkan enzim alfamilase dan gliikoamilase yang berperan mengurai pati menjadi glukosa alias gula sederhana. Setelah menjadi gula, bam difermentasi menjadi etanol.

Lalu bagaimana cara mengolah singkong menjadi etanol? Berikut Langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan singkong yang dilerapkan Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan berikut ini berkapasitas 10 liter per hari.

1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.

2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku

3.Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100″C selama 0,5 jam. Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental.


4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akanmemecah pati menjadi glukosa. Untukmenguraikan 100 liter bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati


5.Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.

6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomycesbekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32″C dan pH 4,5—5,5.


7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol


8.Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.


9. Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78″C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.


10 Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100″C. Pada suhu ilu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dieampur denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120— 130 lifer bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek



Sumber : Trubus

Budidaya



Cara Budidaya Singkong DR


SYARAT PERTUMBUHAN

1. IKLIM

  1. Untuk dapat berproduksi optimal, ubikayu memerlukan curah hujan 150- 200 mm pada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100- 150 mm pada fase menjelang dan saat panen (Wargiono, dkk., 2006).
  2. Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela pohon/singkong sekitar 10 derajat C. Bila suhunya dibawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
  3. Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon/singkong antara 60 – 65%.
  4. Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon / singkong sekitar 10 jam / hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.

2. MEDIA TANAM

  1. Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon / singkong adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah.
  2. Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon / singkong adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
  3. Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5 – 8,0 dengan pH ideal 5,8. pada umumnya tanah di Indonesia ber pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0- 5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.

B. PEDOMAN BUDIDAYA

a) BIBIT
  1. Gunakan varietas unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi, disukaikonsumen, dan sesuai untuk daerah penanaman. Sebaiknya varietas unggul yang dibudidayakan memiliki sifat toleran kekeringan, toleran lahan pH rendah dan/atau tinggi, toleran keracunan Al, dan efektif memanfaatkan hara P yang terikat oleh Al dan Ca.
  2. Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
  3. Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam
  4. Batang telah berkayu dan berdiameter ± 2,5 cm lurus.
  5. Belum tumbuh tunas-tunas baru

b) PENGOLAHAN MEDIA TANAM

a. Persiapan, kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah :
  1. Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan atau cairan pH tester.
  2. Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.
  3. Penetapan jadwal / waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanaman lainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman sejenis.
  4. Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga saat panen dan pasar.
b. Pembukaan dan Pembersihan Lahan

Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar tanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada.

c. Pembentukan Bedengan (Guludan)

Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti permbersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.

d. Pengapuran (Bila diperlukan)

Untuk menaikan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat asam / tanah gambut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan adalah 1 – 2,5 ton / hektar. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

C. TEKNIK PENANAMAN

Penentuan Pola Tanam Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang digunakan pada pola monokultur adalah 80 x 120 cm.

Cara Penanaman Sebelum bibit ditanam disarankan agar bibit direndam terlebih dahulu dengan pupuk hayati MiG-6 Plus yang telah dicampur dengan air selama 3-4 jam. Setelah itu baru dilakukan penanaman dilahan hal ini sangat bagus untuk pertumbuhan dari bibit.

Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon, kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

D. PEMELIHARAAN TANAMAN

Penyulaman
Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas. Penyiangan Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/tanaman liar./ pengganggu (gulma) yang hidup disekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 kali penyiangan. Periode kritis atau periode tanaman harus bebas gangguan gulma adalah antara 5-10 minggu setelah tanam. Bila pengendalian gulma tidak dilakukan selama periode kritis tersebut, produktivitas dapat turun sampai 75% dibandingkan kondisi bebas gulma. Pembubunan Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah disekitar tanaman dan setelah dibuat seperti gundukan. Waktu pembubunan bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan /ditutup dengan tanah agar akan tidak kelihatan. Perempelan / Pemangkasan Pada tanaman ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3, hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi dimusim tanam mendatang. .

E. PEMUPUKAN

Pemupukan Secara Konvensional / Kebiasaan Petani Pemupukan dilakukan dengan system pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea : 135 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 135 kg. pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K = 1/3 : 1: 1/3 atau Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg (sebagai pupuk dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K = 2/3:0:2/3 atau Urea : 85 kg dan KCL : 85 kg. Pemupukan dengan Sistem Teknologi MiG-6 Plus Sistem pemupukan menggunakan teknologi MiG-6 Plus , dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia/anorganik sampai dengan 50%, adapun cara pemupukannya adalah sebagai berikut : Disarankan saat pengolahan lahan diberikan pupuk kandang pada setiap lubang yang akan ditanami bibit. Kebutuhan 5ton/ha. 3 hari sebelum tanam diberikan 2 liter MiG-6 Plus per hektar dengan campuran setiap 1 liter MiG-6 Plus dicampur/dilarutkan dengan air max 200 liter atau 1 tutup botol (10 ml) dicampur/dilarutkan dengan air sebanyak 2 liter (jumlah air tidak harus 200 liter boleh kurang asal cukup untuk 1 hektar) disemprotkan pada lahan secara merata disarankan disemprotkan pada pupuk kandang/kompos agar fungsi dari pupuk kandang/kompos lebih maksimal. Setelah 3 hari bibit / stek siap ditanam. 5 hari setelah tanam berikan campuran pupuk NPK dengan dosis Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg pada lahan 1 hektar, 1 pohon diberikan campuran sebanyak ± 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm. Pemberian MiG-6 Plus selanjutnya pada saat tanaman singkong berumur 2 bulan :2 liter, umur 4 bulan : 2 liter, umur 6 bulan : 2 liter dan 8 bulan : 2 liter. Pemberian pupuk anorganik selanjutnya pada umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk N:P:K dengan dosis Urea : 85 kg, dan KCL : 85 kg. Asumsi bila 1 hektar lahan ditanam 7.500 pohon berarti 1 pohon diberikan sebanyak ± 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm.

F. PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN

Kondisi lahan ketela pohon dari awal tanam sampai umur ± 4-5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab tapi tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. System yang baik digunakan adalah system genangan sehingga air dapat sampai kedaerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan system genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

G. WAKTU PENYEMPROTAN PESTISIDA / INSEKTISIDA

Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama/penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati.